Sabtu, 20 September 2014

BAB III PEMIKIRAN MENGENAI TEORI AKUNTANSI

BAB III

PEMIKIRAN MENGENAI TEORI AKUNTANSI
ELEMEN DAN STRUKTUR TEORI AKUNTANSI
3.1 PEMIKIRAN MENGENAI TEORI
3.1.1 Jenis struktur teoritis
Tingkatan formalisasi dari suatu teori menghasilkan enam jenis utama struktur teoritis, antara lain:
1)      Teori deduktif lengkap memiliki sebuah struktur formal yang lengkap dengan aksioma-aksioma yang telah dijelaskan secara penuh dan seluruh langkah-langkah dalam perluasan deduktifnya dinyatakan dengan lengkap.
2)      Teori hierarki diidentifikasikan sebagai teori-teori dimana hukum-hukum komponennya disajikan sebagai deduksi-deduksi dari satu kumpulan kecil prinsip-prinsip dasar.
3)      Prapengandaian sistematis meliputi formulasi-formulasi yang mengandaikan sebelumnya suatu isi dari teori yang lengkap atau lengkap sebagian.
4)      Teori kuasi deduktif adalah teori dengan deduktif  kuasi karena mneggunakan logika induktif, penggunaan proses deduktif  yang tidak lengkap, atau mengandalkan pada primitif-primitif relative.
5)      Percobaan-percobaan teoritis adalah system-sistem yang dapat, tanpa modifikasi yang signifikan pada konsep atau manipulasi, dapat dibuat paling tidak sebagian menjadi sebuah struktur formal atau system-sistem verbal yang bahkan sebagian dari padanya tidak dapat diformalisasi tanpa modifikasi yang substansial atas konsep-konsep ynag digunakan dan klarifikasi dari hubungan deduktif yang diusulkan.
6)      Teori yang saling berhubungan adalh teori yang hukum-hukum komponennya bekerja dalam jaringan hubungan sehingga membentuk suatu konfigurasi atau pola yang dapat diidentifikasi.
3.1.2 Fungsi dan struktur teori
John Harvard dan Sheth Jagdish, mengklasifikasikan fungsi menjadi empat kategori, antara lain:
1)      Fungsi deskriptif mencakup penggunaan gagasan tau konsep dan hubungan yang mereka miliki untuk memberikan penjelasan terbaik atas suatu fenomena dan kekuatan-kekuatan yang mendasarinya.
2)      Fungsi pembatasan mencakup pemilihan suatu kumpulan peristiwa favorit yang harus dijelaskan dan memberikan suatu arti atas abstraksi yang diformulasikan dari tahapan deskriptif tersebut.
3)      Fungsi generative adalah kemampuan untuk menghasilkan hipotesis yang dapat diuji, yang merupakan tujuan utama dari suatu teori, atau untuk memberikan prasangka, pemikiran, dan ide-ide yang menjadi dasar pengembangan suatu hipotesis.
4)      Fungsi integrative adalah kemampuan untuk menyajikan secara koheren dan konsisten, integrasi dari berbagai konsep dan hubungan dalam suatu teori.
Struktur suatu teori adalah sama pentingnya karena menentukan fungsi dari teori dan digambarkan dalam dimensi-dimensi tertentu, yaitu:
a)      Tingkat abstraksi meliputi penyederhanaan dan generalisasi konsep dan hubungan untuk menghilangkan fitur-fitur yang kurang relevan dalam menjelaskan suatu fenomena.
b)      Permasalahan mengenai realisme versus idealisme mencerminkan dilema yang dihadapi untuk mengambil posisi idealis atau realistis.
c)      Permasalahan mengenai objektivitas versus subjektivitas mencerminkan dilemma yang dihadapi oleh para peneliti dalam memandang suatu konsep dan usulan secara objektif atau subjektif.
d)     Permasalahan mengenai intropeksi versus ekstropeksi mencerminkan dilemma yang dihadapi oleh para peneliti berkenaan dengan apakah memformulasikan teori secara introspektif atau secara ekstropektif.
e)      Tingkat formalitas muncul dari adanya kebutuhan dalam situasi tertentu untuk memberikan suatu teori formal secara khusus dan seragam mengintegrasikan seluruh aspek-aspek teori yang relevan dan dalam situasi yang lain memberikan suatu informasi nonformal yang memiliki cirri-ciri kurang jelasnya gagasan yang menyatukan.
3.1.3 Evaluasi teori
Dari 70 kriteria teori-teori yang baik seperti yang diungkapkan dari berbagai literature, S.C. Dodd memilih 24 kriteria evaluasi yang paling relevan yang disusun berikut ini dengan urutan dari yang paling penting:
1)      Dapat diverifikasi                                           13) Sinergi
2)      Dapat diprediksi                                             14) Kehematan
3)      Konsisten                                                        15) Kesederhanaan
4)      Andal                                                              16) Stabilitas
5)      Akurat                                                             17) Keseringan
6)      Umum                                                             18) Kemampuan untuk diterjemahkan
7)      Utilitas                                                                        19) Kelangsungan
8)      Penting                                                            20) Ketahanan
9)      Multi penerapan                                              21) Pengenalan
10)  Memiliki satu arti                                            22) Kepopuleran
11)  Dapat dikendalikan                                         23) Kemanjuran
12)  Dapat distandarkan                                         24) Densitas
3.1.4 Teori umum versus teori menengah tentang akuntansi
Popularitas yang baru-baru ini ditunjukkan oleh berbagai teori dan model kauntanis adalah saksi dari tidak populernya pembuatan teori secara umum dan teknik-teknik akuntansi yang universalitas.
Teori akuntanis menengah muncul diakibatkan oleh adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam cara-cara para peneliti mengartikan pengguna dari data akuntansi maupun lingkungan dimana para pengguna dana pembuat data akuntansi seharusnya bertingkah laku. Perbedaan-perbedaan ini akhirnya mengarahkan Komite Konsep dan Standar untuk Laporan Keuangan Eksternal dari American Accounting Association menarik kesimpulan bahwa:
1.      Tidak ada satupun aturan teori akuntansi keuangan yang cukup luas untuk mencakup seluruh jajaran spesifikasi dari pengguna lingkungan secara efektif.
2.      Yang tercantum dalam literature akuntansi keuangan bukanlah suatu teori akuntansi keuangan melainkan sekumpulan teori yang yang dapat diatur sesuai dengan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam spesifikasi dari pengguna lingkungan.
3.2 PEMIKIRAN MENGENAI KONSEP
3.2.1 Hakikat dan pentingnya konsep
Dengan dinyatakan sebagai paradoks konseptualisasi, konsep dapat dijelaskan sebagai berikut: “konsep-konsep yang tepat dibutuhkan untuk membentuk suatu teori baik, namun kita membutuhkan suatu teori ynag baik untuk mendapatkan konsep-konsep ynag tepat, semakin baik konsep yang kita miliki, semakin baik teori yang dapat kita formulasikan darinya dan berikutnya semakin baik konsep yang tersedia untuk peningkatan teori berikutnya.
Suatu konsep dapat berupa beragam jenis, satu pembedanya adalah dari segi konsep formal versus nonformal, dimana konsep nonformal tidak seperti formal mengacu kepada beberapa aspek dari dunia nyata, jenis yang lain meliputi:
a)      Konsep observasional dalah konsep yang memiliki karakteristik objek tertentu yang dapat diobservasi secara langsung, yaitu sifat atau hubungan yang kehadiran maupun ketidakhadirannya di suatu kasus tertentu dapat dipastikan secara intersubjektif dalam kondisi-kondisi yang sesuai oleh observasi langsung.
b)      Konsep teoritis adalah konsep yang memainkan peranan khusus dan terkandung dalam suatu teori tertentu.
c)      Konsep disposisi mengacu kepada suatu kecenderungan untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang spesifik menurut kondisi-kondisi tertentu yang dapat ditetapkan.
3.2.2 Validitas konsep
Zaltman dan rekan-rekannya memberikan daftar yang lengkap dan didefinisikan dengan baik yang memuat jenis-jenis validitas konsep yang terdapat dalam literature-literatur riset, mereka adalah:
1.      Validitas observasional: tingkat sampai dimana suatu konsep dapat disederhanakan oleh observasi.
2.      Validitas isi: tingkat sampai dimana suatu operasionalisasi mencerminkan konsep yang hendak dibuat generalisasinya.
3.      Validitas yang berhubungan dengan criteria: tingkat samapai di mana konsep ynag sedang dinilai memungkinkan seseorang untuk meramalkan nilai dari beberapa konsep yang lain yang membentuk criteria.
4.      Validitas gagasan: sampai sejauh mana operasionalisasi mengukur konsep yang seharusnya ia ukur.
5.      Validitas sistemik: tingkat sampai dimana suatu konsep memungkinkan adanya integrasu dari konsep-konsep yang sebelumnya tidak saling berhubungan atau pembuatan suatu system konseptual yang baru.
6.      Validitas semantic: tingkat sampai dimana suatu konsep memiliki penggunaan semnatik yang seragam.
7.      Validitas pengendalian: tingkat sampai dimana suatu konsep dapat dimanipulasi dan mampu mempengaruhi variabel-variabel lain yang berpengaruh.
3.3 MENANGANI HIPOTESIS
3.3.1 Dari dalil ke hipotesis
Dalil dalam suatu teori menetapkan hubungan antara konsep-konsep dalam teori tersebut. Secara umum ciri-cirinya adalah:
1)      Angka dan tingkat predikat yaitu unit sintaksis yang menyatakan tinadakan yang telah diakukan oleh atau berdasarkan kondisi yang dapat dikaitkan dengan subjek dari kalimat.
2)      Tingkat dari keumumman yaitu lingkungan dari wacana yang diberikan.
Dalil dapat menjadi hipotesis jiak mereka mengacu kepada fakta-fakta yang tidak berpengalaman dan pada waktu yang bersamaan dapat diperbarui berdasarkan atas pengetahuan yang baru diperoleh. Karakteristik utama dari sebuah hipotesis adalah kemampuan untuk diuji secara empiris.
3.3.2 Konfirmasi atas hipotesis
Metodologi terletak dalam penentuan apakah suatu nilai kebenaran dapat, secara prinsip dapat ditempatkan sebagai hipotesis yaitu, apakah ia dapat disanggah, dikonfirmasikan, dibuktikan kesalahannya atau diverifikasi. Konfirmasi adalah sampai sejauh mana suatu hipotesis mampu menunjukkan kebenaran secara empiris, yaitu menggambarkan dunia nyata dengan akurat. Pembuktian kesalahan adalah sampai sejauh mana hipotesis mampu menunjukkan bahwa ia secara empiris tidak benar, yaitu gagal untuk menggambarkan dunia nyata dengan akurat. Konfirmasi atas hipotesis tidak selalu memiliki arti bahwa meraka dapat dibuktikan atau sebaliknya. Bahkan pada kenyataannya, hipotesis yang aslinya didasarkan atas teori yang semata-mata dapat dikonfirmasikan, semata-mata dapat disanggah, atau keduanya. Hipotesis yang semata-mata dapat dikonfirmasikan datang dari pernyataan-pernyataan eksistensial, yaitu pernyataan yang mengajukan eksistensi dari beberapa fenomena. Hipotesis yang semata-mata dapat disanggah datang dari hukum-hukum universal, yaitu pernyataan-pernyataan yang dapat mengambil bentuk dari persyaratan-persyaratan generalisasi yang universal. Kedua hipotesis yang dapat dikonfirmasikan dan disanggah tersebut datang dari pernyataan tunggal, yaitu pernyataan yang hanya mengacu pada fenomena tertentu yang terikat dalam waktu dan ruang.
3.3.3 Hakikat dari penjelasan
Penjelasan adalah langkah vital dari seluruh jenis pertanyaan ilmiah. Earnest Nagel menyatakan bahwa tujuan khusus dari suatu usaha ilmiah adalah untuk memberikan penjelasan yang sistematis dan didukung secara bertanggung jawab. Model-model penjelasan harus memenuhi persyaratan-persyaratan berikut ini:
1)      Persyaratan akan relevansi penjelasan berarti bahwa model penjelasan harus bagaimanapun caranya menunjukkan bahwa fenomena yang akan dijelaskan adalah telah diekspektasikan mengingat kondisi yang ada.
2)      Persyaratan akan kemampuan untuk diuji berarti bahwa penjelasan ilmiah harus dapat diuji secara empiris.
Jenis-jenis model penjelasan antara lain:
1.      Model fungsional menjawab pertanyaan mengapa atas suatu fenomena dengan mengacu kepada fungsi-fungsi tertentu dari fenomena tersebut.
2.      Model genetic penjelasan menjawab pertanyaan mengapa atas suatu fenomena dengan mengacu kepada suatu kondisi sebelumnya atau suatu urutan dari kondisi-kondisi sebelumnya.
3.      Model pola dari penjelasan menjawab pertanyaan mengapa dengan mencocokkan suatu fenomena ke dalam pola yang diketahui.
4.      Model peristiwa-peristiwa individual menjelaskan pertanyaan mengapa dengan mengacu kepada penjelasan-penjelasan individual sebagai penjelasnya.
5.      Model empiris logis menjawab pertanyaan mengapa dengan tidak mengacu kepada peristiwa-peristiwa individual namun kepada generalisasi empiris yang menggolongkan dan secara induktif menggeneralisasi temuan-temuan yang ada.
Eugene Meehan menawarkan hal berikut ini sebagai criteria dengan menilai kegunaan dari suatu penjelasan. Ada empat hal penting yang perlu diperhatikan:
1)      Ruang lingkup dari penjelasan, yaitu rentang peristiwa di mana ia dapat diterapkan
2)      Penjelasan akna berbeda dalam hal presisi, dalam keakuratan dalam ekspektasi yang mereka hasilkan dan prosedur-prosedur pengendalian yang mereka sarankan
3)      Penjelasan akan berbeda dalam hal kekuatan, dan besarnya pengendalian atas situasi empiris yang dapat mereka perkenankan
4)      Penjelasan akan berbeda dalam hal keandalan, yaitu besarnya keyakinan yang kita berikan dalam penggunaannya.
3.3.4 Hakikat dari prediksi
Apakah hubungan antara penjelasan dengan prediksi? Hempel menjawab pertanyaan ini dari segi tesis identitas structural atau simetri structural:
1.      Setiap penjelasan yang memadai adalah suatu potensi prediksi
2.      Setiap prediksi yang memadai adalah suatu potensi penjelasan
Prediksi itu sendiri adalah berarti proses pembuatan deduksi dari peristiwa yang diketahui ke peristiwa yang tidak diketahui dalam sebuah system yang statis secara konseptual. Sedangkan prediksi ilmiah memiliki arti prediksi yang dipandu oleh aturan-aturan ilmiah.
3.4 KONTEKS PENEMUAN
Prosedur-prosedur apakah yang harus digunakan untuk menghasilkan atau menemukan generalisasi, hukum atau teori-teori empiris? Secara umum, ada empat prosedur yang digunakan, antara lain:
1)      Mimpi mungkin adalah salah satu prosedur penemuan yang memiliki peranan penting dalam penemuan ilmiah.
2)      Pendekatan deduktif adalah prosedur penemuan yang lainnya. Pendekatan deduktif terhadap penyusunan suatu teori apapun dimulai dengan dalil-dalil dasar dan dilanjutkan untuk menghasilkan kesimpulan logis atau subjek yang dipermasalahkan. Langkah-langkah yang digunakan  untuk menghasilkan suatu pendekatan deduktif akan meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)      Menyatakan tujuan dari laporan-laporan keuangan
b)      Memilih dalil-dalil akuntansi
c)      Menghasilkan prinsip-prinsip akuntansi
d)     Mengembangkan teknik-teknik akuntansi
3)      Pendekatan induktif juga merupakan prosedur penemuan. Pendekatan induktif bagi penyusunan suatu teori dimulai dengan observasi-observasi serta pengukuran, dan selanjutnya bergerak kearah generalisasi kesimpulan. Pendekatan induktif atas teori melibatkan empat tahapan:
a)      Mencatat seluruh observasi yang dilakukan
b)      Menganalisis dan mengklarifikasikan observasi-observasi ini untuk mendeteksi adanya hubungan yang terus berulang
c)      Secara induktif menghasilkan generalisasi dan prinsip-prinsip akuntansi dari observasi-observasi yang menggambarkan hubungan yang terus berulang
d)     Menguji generalisasi tersebut
3.5 KESIMPULAN

Riset akuntansi seharusnya adalah untuk mengembangkan suatu metodologi pemikiran yang kuat baik dalam penyusunan teori maupun pelaksanaan riset dasar dan terapan. Konsep-konsep dari filosofi keilmuan dan metateori akan terbukti sangat membantu sebagai alat dan sarana dalam metodologi pemikiran seperti itu.
BAB 11 HAKIKAT DAN PENGGUNAAN AKUNTANSI 
Aspek-aspek dari akuntansi yang dirancang termasuk konsep-konsep yang berbeda, seperti:
2.6.1 Hipotesis salah saji keuangan secara selektif
Hipotesis dari salah saji keuangan yang selektif, seperti yang dikemukakan oleh Revsine menyatakan bahwa masalah ini bukanlah suatu yang incidental, melainkan hasil dari aturan-aturan pelaporan yang fleksibel dan menyusun yang disebarluaskan oleh para penyusun standar yang telah ditangkap oleh subjek yang dimasudkan dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses pelaporan keuangan. Situasi ini menuntut adanya suatu perubahan dengan mengisolasi proses penentuan standar dari jangkauan regulator. Revsine mengusulkan prosesempat langkah berikut ini:
1)      Mendidik public
2)      Memperbaiki proses pemilihan dan pengawasan para penyusun standar
3)      Menetapkan pengaturan pendanaan baru
4)      Menciptakan independensi bagi para penyusun standar
2.6.2 Perataan laba
Definisi awal mengatakan bahwa perataan laba adalah pengurangan fluktuasi laba dari tahun ke tahun dengan memindahkan pendapatan dari tahun-tahun yang tinggi pendapatannya ke periode-periode yang kurang menguntungkan.
Definisi yang lebih akhir mengenai pemerataan laba melihatnya sebagai fenomena “proses manipulasi profil waktu dari pendapatan atau laporan pendapatan untuk membuat laporan laba menjadi kurang bervariasi, sambil sekaligus tidak meningkatkan pendapatan yang dilaporkan selama periode tersebut.
2.6.3 Manejemen Laba
Manajemen laba yaitu suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan-pilihan yang tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan. Schipper juga melihat manajemen laba baik dari sudut pandang laba ekonomi (nyata) ataupun dari sudut pandang informasional.
1)      Sudut pandang laba mengasumsikan adanya:
a)      Eksistensi dari suatu laba ekonomi nyata yang didistribusikan dengan  menggunakan menejemen laba yang disengaja dan menggunakan kesalahan-kesalahan pengukuran yang terdapat dalam aturan-aturan akuntansi.
b)      Pendapatan yang kacau dan belum dikelola, yang diperoleh dari property-properti baru manajemen laba baik dilihat dari segi jumlah, bias atau variasinya.
2)      Sudut pandang informasional mengasumsikan adanya:
a)      Pendapatan adalah salah satu sinyal yang digunakan untuk pertimbangan dan pengambilan keputusan
b)      Para manajer memiliki informasi pribadai yang dapat mereka gunakan ketika mereka memilih unsure-unsur dalam GAAP terhadap berbagai kumpulan kontrak yang akan menentukan pembicaraan dan perilaku mereka.
2.6.4 Kreativitas Dalam Akuntansi
Akuntansi kreatif (creative accounting) adalah istilah yang biasanya digunakan oleh pers popular untuk mengacu kepda apa yang dianggap oleh jurnalis dilakukan oleh akuntan untuk menjadikan laporan keuangan tampak lebih bagus dari yang seharusnya.
Akuntansi kreatif juga direferensikan sebagai penggunaan tipu muslihat akuntansi untuk mendorong  pendapatan yang mengalami kelesuan atau meratakan pendapatan yang tidak beraturan. Hal ini dapat diraih dengan pelaksanaan tujuh penggelapan utama yang diuraikan berikut ini:
a.       Mencatat pendapatan sebelum dihasilkan
b.      Menciptakan pendapatan fiktif
c.       Mendorong laba melalui transaksi-transaksi yang tidak rutin
d.      Menggeser pengeluaran saat ini ke periode berikutnya
e.       Tidak mencatat atau mengungkapkan kewajiban
f.       Menggeser laba berjalan ke periode dimasa depan
g.      Menggeser pengeluaran di masa depan ke periode yang lebih awal
2.6.5  Kecurangan Dalam Akuntansi
Kecurangan merupakan pengelabuan yang disengaja yang dilakukan oleh orang lain melalui kebohongan dan penipuan untuk tujuan memperoleh keuntungan ekonomi, pribadi, social tau politik yang tidak adil atas orang tersebut.
a.       Kecurangan korporat
Kecurangan korporat atau kejahatan ekonomi yang umumnya dilakukan oleh pejabat, eksekutif, dan manajer pusat laba dari perusahaan public untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jangka pendek mereka.
b.      Kecurangan dalam pelaporan keuangan
Komisi Nasional mengenai Kecuran dalam Pelaporan Keuangan mendefinisikan kecurangan dalam pelaporan keuangan sebagai perlakuan yang disengaja atau sembrono, baik tindakan atau penghilangan, yanag menghasilkan laporan keuangan yang secara material menyesatkan. Jenis-jenis yang umum dari kecurangan dalam pelaporan keuangan meliputi:
1.      Manipulasi, pemalsuan atau pengubahan catatan-catatan atau dokumen-dokumen
2.      Penekanan atau penghilangan dampak dari transaksi-transaksi yang sudah selesai dari catatan-catatan dokumen
3.      Pencatatan transaksi tanpa ada substansinya
4.      Kesalahan penerapan dalam kebijakan-kebijakan akuntansi
5.      Kegagalan untuk mengungkapkan informasi yang signifikan
Salah satu pengungkapan keuangan yang disyaratkan oleh program penegakan kecurangan terdapat pada empat area:
1.      Masalah likuiditas
2.      Tren dan faktor operasional yang mempengaruhi laba dan rugi
3.      Peningkatan yang material dalam pinjaman-pinjaman bermasalah harus dilaporkan oleh institusi-institusi keuangan
4.      Perusahaan tidak dapat menghindari kewajiban pengungkapannya ketika menghadapi penurunan atau kegagalan bisnis
Perusahaan perlu menerapkan langkah-langkah untuk memperkecil eksposur yang disebabkan oleh kecurangan atau pelaporan keuangan yang dipertanyakan . contoh-contoh saran untuk memperkecil eksposur tersebut meliputi:
1.      Formulasi sikap perilaku yang diinginkan
2.      Pemeliharaan system pengendalian internal yang efektif
3.      Pemeliharaan organisasi keuangan yang efektif dengan tanggung jawab yang diakui dalam memelihara praktik-praktik pelaporan keuangan yang baik
4.      Pemeliharaan fungsi audit internal
5.      Dewan direksi memainkan peranan yang aktif dalam peninjauan kebijakan dan praktik pelaporan keuangan.
c.       Kejahatan kerah putih
Istilah kejahatan kerah putih pertama kali diperkenalkan pada pidato presidensial Edwin Sutherland kepda Masyarakat Sosiologis Amerika pada bulan desember 1939. Ia mendefinisikannya sebgai suatu kejahtan yang dilakukan oleh seseorang yang terhormat dengan status social kelas atas dalam pelaksanaan pekerjaanya. Kejhatan kerah putih dapat dikenlai dari kelima komponen utamanya:
1.      Maksud untuk melakukan kejahatan
2.      Menyamarkan tujuan
3.      Menggantungkan diri pada kenaifan korban
4.      Tindakan korban secara suka rela untuk membantu pelaku kejahatan
5.      Penyembunyian pelanggaran tersebut
d.      Kegagalan audit
Auditor diharapkan dapat mendeteksi dan memperbaiki atau mengungkapkan penghilangan atau kesalahan saji informasi keuangan yang material. Ketika auditor gagal untuk memenuhi ekspektasi ini, maka kegagalan audit adalah hasil yang tidak dapat dielakkan. Maka kemudian tingkat kualitas auditlah yang dapat menghindarkan terjadinya kegagalan audit. Kualitas audit adalah sebagai probabilitas bahwa laporan keuangan tidak memuat penghilangan atau kesalahan penyajian yang material. Kualitas audit juga didefinisikan dari segi resiko audit, dengan jasa bermutu tinggi akan mencerminkan resiko audit yang lebih kecil. Risiko audit didefinisikan sebagai risiko bahwa auditor kemungkinan dengan tanpa sepengetahuannya gagal untuk dengan tepat memodifikasi pendapatnya atas laporan keuangan yang memuat kesalahan penyajian yang material.

sumber : http://prezi.com/rwjkyuklcb73/copy-of-teori-akuntansi/ , sumber kedua: http://suwardjono.staff.ugm.ac.id/kuliah/193-makalah-teori-akuntansi-dalam-konteks-ifrs.html