PEMIKIRAN MENGENAI TEORI AKUNTANSI
ELEMEN DAN STRUKTUR
TEORI AKUNTANSI
3.1 PEMIKIRAN
MENGENAI TEORI
3.1.1 Jenis
struktur teoritis
Tingkatan
formalisasi dari suatu teori menghasilkan enam jenis utama struktur teoritis,
antara lain:
1) Teori
deduktif lengkap memiliki sebuah struktur formal yang lengkap dengan
aksioma-aksioma yang telah dijelaskan secara penuh dan seluruh langkah-langkah
dalam perluasan deduktifnya dinyatakan dengan lengkap.
2) Teori
hierarki diidentifikasikan sebagai teori-teori dimana hukum-hukum komponennya
disajikan sebagai deduksi-deduksi dari satu kumpulan kecil prinsip-prinsip
dasar.
3) Prapengandaian
sistematis meliputi formulasi-formulasi yang mengandaikan sebelumnya suatu isi
dari teori yang lengkap atau lengkap sebagian.
4) Teori
kuasi deduktif adalah teori dengan deduktif
kuasi karena mneggunakan logika induktif, penggunaan proses
deduktif yang tidak lengkap, atau
mengandalkan pada primitif-primitif relative.
5) Percobaan-percobaan
teoritis adalah system-sistem yang dapat, tanpa modifikasi yang signifikan pada
konsep atau manipulasi, dapat dibuat paling tidak sebagian menjadi sebuah
struktur formal atau system-sistem verbal yang bahkan sebagian dari padanya
tidak dapat diformalisasi tanpa modifikasi yang substansial atas konsep-konsep
ynag digunakan dan klarifikasi dari hubungan deduktif yang diusulkan.
6) Teori
yang saling berhubungan adalh teori yang hukum-hukum komponennya bekerja dalam
jaringan hubungan sehingga membentuk suatu konfigurasi atau pola yang dapat
diidentifikasi.
3.1.2 Fungsi dan
struktur teori
John Harvard dan
Sheth Jagdish, mengklasifikasikan fungsi menjadi empat kategori, antara lain:
1) Fungsi
deskriptif mencakup penggunaan gagasan tau konsep dan hubungan yang mereka
miliki untuk memberikan penjelasan terbaik atas suatu fenomena dan
kekuatan-kekuatan yang mendasarinya.
2) Fungsi
pembatasan mencakup pemilihan suatu kumpulan peristiwa favorit yang harus
dijelaskan dan memberikan suatu arti atas abstraksi yang diformulasikan dari
tahapan deskriptif tersebut.
3) Fungsi
generative adalah kemampuan untuk menghasilkan hipotesis yang dapat diuji, yang
merupakan tujuan utama dari suatu teori, atau untuk memberikan prasangka,
pemikiran, dan ide-ide yang menjadi dasar pengembangan suatu hipotesis.
4) Fungsi
integrative adalah kemampuan untuk menyajikan secara koheren dan konsisten,
integrasi dari berbagai konsep dan hubungan dalam suatu teori.
Struktur suatu
teori adalah sama pentingnya karena menentukan fungsi dari teori dan
digambarkan dalam dimensi-dimensi tertentu, yaitu:
a) Tingkat
abstraksi meliputi penyederhanaan dan generalisasi konsep dan hubungan untuk
menghilangkan fitur-fitur yang kurang relevan dalam menjelaskan suatu fenomena.
b) Permasalahan
mengenai realisme versus idealisme mencerminkan dilema yang dihadapi untuk
mengambil posisi idealis atau realistis.
c) Permasalahan
mengenai objektivitas versus subjektivitas mencerminkan dilemma yang dihadapi
oleh para peneliti dalam memandang suatu konsep dan usulan secara objektif atau
subjektif.
d) Permasalahan
mengenai intropeksi versus ekstropeksi mencerminkan dilemma yang dihadapi oleh
para peneliti berkenaan dengan apakah memformulasikan teori secara introspektif
atau secara ekstropektif.
e) Tingkat
formalitas muncul dari adanya kebutuhan dalam situasi tertentu untuk memberikan
suatu teori formal secara khusus dan seragam mengintegrasikan seluruh
aspek-aspek teori yang relevan dan dalam situasi yang lain memberikan suatu
informasi nonformal yang memiliki cirri-ciri kurang jelasnya gagasan yang
menyatukan.
3.1.3 Evaluasi
teori
Dari 70 kriteria
teori-teori yang baik seperti yang diungkapkan dari berbagai literature, S.C.
Dodd memilih 24 kriteria evaluasi yang paling relevan yang disusun berikut ini
dengan urutan dari yang paling penting:
1) Dapat
diverifikasi 13)
Sinergi
2) Dapat
diprediksi 14)
Kehematan
3) Konsisten 15)
Kesederhanaan
4) Andal 16)
Stabilitas
5) Akurat 17)
Keseringan
6) Umum 18)
Kemampuan untuk diterjemahkan
7) Utilitas 19)
Kelangsungan
8) Penting 20)
Ketahanan
9) Multi
penerapan 21)
Pengenalan
10) Memiliki
satu arti 22)
Kepopuleran
11) Dapat
dikendalikan 23)
Kemanjuran
12) Dapat
distandarkan 24)
Densitas
3.1.4 Teori umum
versus teori menengah tentang akuntansi
Popularitas yang
baru-baru ini ditunjukkan oleh berbagai teori dan model kauntanis adalah saksi
dari tidak populernya pembuatan teori secara umum dan teknik-teknik akuntansi
yang universalitas.
Teori akuntanis
menengah muncul diakibatkan oleh adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam
cara-cara para peneliti mengartikan pengguna dari data akuntansi maupun
lingkungan dimana para pengguna dana pembuat data akuntansi seharusnya
bertingkah laku. Perbedaan-perbedaan ini akhirnya mengarahkan Komite Konsep dan
Standar untuk Laporan Keuangan Eksternal dari American Accounting Association menarik kesimpulan bahwa:
1. Tidak
ada satupun aturan teori akuntansi keuangan yang cukup luas untuk mencakup
seluruh jajaran spesifikasi dari pengguna lingkungan secara efektif.
2. Yang
tercantum dalam literature akuntansi keuangan bukanlah suatu teori akuntansi
keuangan melainkan sekumpulan teori yang yang dapat diatur sesuai dengan
perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam spesifikasi dari pengguna lingkungan.
3.2 PEMIKIRAN
MENGENAI KONSEP
3.2.1 Hakikat
dan pentingnya konsep
Dengan
dinyatakan sebagai paradoks konseptualisasi, konsep dapat dijelaskan sebagai
berikut: “konsep-konsep yang tepat dibutuhkan untuk membentuk suatu teori baik,
namun kita membutuhkan suatu teori ynag baik untuk mendapatkan konsep-konsep
ynag tepat, semakin baik konsep yang kita miliki, semakin baik teori yang dapat
kita formulasikan darinya dan berikutnya semakin baik konsep yang tersedia
untuk peningkatan teori berikutnya.
Suatu konsep
dapat berupa beragam jenis, satu pembedanya adalah dari segi konsep formal
versus nonformal, dimana konsep nonformal tidak seperti formal mengacu kepada
beberapa aspek dari dunia nyata, jenis yang lain meliputi:
a) Konsep
observasional dalah konsep yang memiliki karakteristik objek tertentu yang
dapat diobservasi secara langsung, yaitu sifat atau hubungan yang kehadiran
maupun ketidakhadirannya di suatu kasus tertentu dapat dipastikan secara
intersubjektif dalam kondisi-kondisi yang sesuai oleh observasi langsung.
b) Konsep
teoritis adalah konsep yang memainkan peranan khusus dan terkandung dalam suatu
teori tertentu.
c) Konsep
disposisi mengacu kepada suatu kecenderungan untuk menunjukkan reaksi-reaksi
yang spesifik menurut kondisi-kondisi tertentu yang dapat ditetapkan.
3.2.2 Validitas
konsep
Zaltman dan
rekan-rekannya memberikan daftar yang lengkap dan didefinisikan dengan baik
yang memuat jenis-jenis validitas konsep yang terdapat dalam
literature-literatur riset, mereka adalah:
1. Validitas
observasional: tingkat sampai dimana suatu konsep dapat disederhanakan oleh
observasi.
2. Validitas
isi: tingkat sampai dimana suatu operasionalisasi mencerminkan konsep yang
hendak dibuat generalisasinya.
3. Validitas
yang berhubungan dengan criteria: tingkat samapai di mana konsep ynag sedang
dinilai memungkinkan seseorang untuk meramalkan nilai dari beberapa konsep yang
lain yang membentuk criteria.
4. Validitas
gagasan: sampai sejauh mana operasionalisasi mengukur konsep yang seharusnya ia
ukur.
5. Validitas
sistemik: tingkat sampai dimana suatu konsep memungkinkan adanya integrasu dari
konsep-konsep yang sebelumnya tidak saling berhubungan atau pembuatan suatu
system konseptual yang baru.
6. Validitas
semantic: tingkat sampai dimana suatu konsep memiliki penggunaan semnatik yang
seragam.
7. Validitas
pengendalian: tingkat sampai dimana suatu konsep dapat dimanipulasi dan mampu
mempengaruhi variabel-variabel lain yang berpengaruh.
3.3 MENANGANI
HIPOTESIS
3.3.1 Dari dalil
ke hipotesis
Dalil dalam
suatu teori menetapkan hubungan antara konsep-konsep dalam teori tersebut.
Secara umum ciri-cirinya adalah:
1) Angka
dan tingkat predikat yaitu unit sintaksis yang menyatakan tinadakan yang telah
diakukan oleh atau berdasarkan kondisi yang dapat dikaitkan dengan subjek dari
kalimat.
2) Tingkat
dari keumumman yaitu lingkungan dari wacana yang diberikan.
Dalil dapat
menjadi hipotesis jiak mereka mengacu kepada fakta-fakta yang tidak
berpengalaman dan pada waktu yang bersamaan dapat diperbarui berdasarkan atas
pengetahuan yang baru diperoleh. Karakteristik utama dari sebuah hipotesis
adalah kemampuan untuk diuji secara empiris.
3.3.2 Konfirmasi
atas hipotesis
Metodologi
terletak dalam penentuan apakah suatu nilai kebenaran dapat, secara prinsip
dapat ditempatkan sebagai hipotesis yaitu, apakah ia dapat disanggah,
dikonfirmasikan, dibuktikan kesalahannya atau diverifikasi. Konfirmasi adalah
sampai sejauh mana suatu hipotesis mampu menunjukkan kebenaran secara empiris,
yaitu menggambarkan dunia nyata dengan akurat. Pembuktian kesalahan adalah sampai
sejauh mana hipotesis mampu menunjukkan bahwa ia secara empiris tidak benar,
yaitu gagal untuk menggambarkan dunia nyata dengan akurat. Konfirmasi atas
hipotesis tidak selalu memiliki arti bahwa meraka dapat dibuktikan atau
sebaliknya. Bahkan pada kenyataannya, hipotesis yang aslinya didasarkan atas
teori yang semata-mata dapat dikonfirmasikan, semata-mata dapat disanggah, atau
keduanya. Hipotesis yang semata-mata dapat dikonfirmasikan datang dari
pernyataan-pernyataan eksistensial, yaitu pernyataan yang mengajukan eksistensi
dari beberapa fenomena. Hipotesis yang semata-mata dapat disanggah datang dari
hukum-hukum universal, yaitu pernyataan-pernyataan yang dapat mengambil bentuk
dari persyaratan-persyaratan generalisasi yang universal. Kedua hipotesis yang
dapat dikonfirmasikan dan disanggah tersebut datang dari pernyataan tunggal,
yaitu pernyataan yang hanya mengacu pada fenomena tertentu yang terikat dalam
waktu dan ruang.
3.3.3 Hakikat
dari penjelasan
Penjelasan
adalah langkah vital dari seluruh jenis pertanyaan ilmiah. Earnest Nagel
menyatakan bahwa tujuan khusus dari suatu usaha ilmiah adalah untuk memberikan
penjelasan yang sistematis dan didukung secara bertanggung jawab. Model-model
penjelasan harus memenuhi persyaratan-persyaratan berikut ini:
1) Persyaratan
akan relevansi penjelasan berarti bahwa model penjelasan harus bagaimanapun
caranya menunjukkan bahwa fenomena yang akan dijelaskan adalah telah
diekspektasikan mengingat kondisi yang ada.
2) Persyaratan
akan kemampuan untuk diuji berarti bahwa penjelasan ilmiah harus dapat diuji
secara empiris.
Jenis-jenis
model penjelasan antara lain:
1. Model
fungsional menjawab pertanyaan mengapa atas suatu fenomena dengan mengacu
kepada fungsi-fungsi tertentu dari fenomena tersebut.
2. Model
genetic penjelasan menjawab pertanyaan mengapa atas suatu fenomena dengan
mengacu kepada suatu kondisi sebelumnya atau suatu urutan dari kondisi-kondisi
sebelumnya.
3. Model
pola dari penjelasan menjawab pertanyaan mengapa dengan mencocokkan suatu
fenomena ke dalam pola yang diketahui.
4. Model
peristiwa-peristiwa individual menjelaskan pertanyaan mengapa dengan mengacu
kepada penjelasan-penjelasan individual sebagai penjelasnya.
5. Model
empiris logis menjawab pertanyaan mengapa dengan tidak mengacu kepada
peristiwa-peristiwa individual namun kepada generalisasi empiris yang
menggolongkan dan secara induktif menggeneralisasi temuan-temuan yang ada.
Eugene Meehan
menawarkan hal berikut ini sebagai criteria dengan menilai kegunaan dari suatu
penjelasan. Ada empat hal penting yang perlu diperhatikan:
1) Ruang
lingkup dari penjelasan, yaitu rentang peristiwa di mana ia dapat diterapkan
2) Penjelasan
akna berbeda dalam hal presisi, dalam keakuratan dalam ekspektasi yang mereka
hasilkan dan prosedur-prosedur pengendalian yang mereka sarankan
3) Penjelasan
akan berbeda dalam hal kekuatan, dan besarnya pengendalian atas situasi empiris
yang dapat mereka perkenankan
4) Penjelasan
akan berbeda dalam hal keandalan, yaitu besarnya keyakinan yang kita berikan
dalam penggunaannya.
3.3.4 Hakikat
dari prediksi
Apakah hubungan
antara penjelasan dengan prediksi? Hempel menjawab pertanyaan ini dari segi
tesis identitas structural atau simetri structural:
1. Setiap
penjelasan yang memadai adalah suatu potensi prediksi
2. Setiap
prediksi yang memadai adalah suatu potensi penjelasan
Prediksi itu
sendiri adalah berarti proses pembuatan deduksi dari peristiwa yang diketahui
ke peristiwa yang tidak diketahui dalam sebuah system yang statis secara
konseptual. Sedangkan prediksi ilmiah memiliki arti prediksi yang dipandu oleh
aturan-aturan ilmiah.
3.4 KONTEKS
PENEMUAN
Prosedur-prosedur
apakah yang harus digunakan untuk menghasilkan atau menemukan generalisasi,
hukum atau teori-teori empiris? Secara umum, ada empat prosedur yang digunakan,
antara lain:
1) Mimpi
mungkin adalah salah satu prosedur penemuan yang memiliki peranan penting dalam
penemuan ilmiah.
2) Pendekatan
deduktif adalah prosedur penemuan yang lainnya. Pendekatan deduktif terhadap
penyusunan suatu teori apapun dimulai dengan dalil-dalil dasar dan dilanjutkan
untuk menghasilkan kesimpulan logis atau subjek yang dipermasalahkan.
Langkah-langkah yang digunakan untuk
menghasilkan suatu pendekatan deduktif akan meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Menyatakan
tujuan dari laporan-laporan keuangan
b) Memilih
dalil-dalil akuntansi
c) Menghasilkan
prinsip-prinsip akuntansi
d) Mengembangkan
teknik-teknik akuntansi
3) Pendekatan
induktif juga merupakan prosedur penemuan. Pendekatan induktif bagi penyusunan
suatu teori dimulai dengan observasi-observasi serta pengukuran, dan
selanjutnya bergerak kearah generalisasi kesimpulan. Pendekatan induktif atas
teori melibatkan empat tahapan:
a) Mencatat
seluruh observasi yang dilakukan
b) Menganalisis
dan mengklarifikasikan observasi-observasi ini untuk mendeteksi adanya hubungan
yang terus berulang
c) Secara
induktif menghasilkan generalisasi dan prinsip-prinsip akuntansi dari
observasi-observasi yang menggambarkan hubungan yang terus berulang
d) Menguji
generalisasi tersebut
3.5 KESIMPULAN
Riset akuntansi
seharusnya adalah untuk mengembangkan suatu metodologi pemikiran yang kuat baik
dalam penyusunan teori maupun pelaksanaan riset dasar dan terapan.
Konsep-konsep dari filosofi keilmuan dan metateori akan terbukti sangat
membantu sebagai alat dan sarana dalam metodologi pemikiran seperti itu.