Aspek-aspek dari
akuntansi yang dirancang termasuk konsep-konsep yang berbeda, seperti:
2.6.1 Hipotesis
salah saji keuangan secara selektif
Hipotesis dari
salah saji keuangan yang selektif, seperti yang dikemukakan oleh Revsine
menyatakan bahwa masalah ini bukanlah suatu yang incidental, melainkan hasil
dari aturan-aturan pelaporan yang fleksibel dan menyusun yang disebarluaskan
oleh para penyusun standar yang telah ditangkap oleh subjek yang dimasudkan dan
pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses pelaporan keuangan. Situasi ini
menuntut adanya suatu perubahan dengan mengisolasi proses penentuan standar
dari jangkauan regulator. Revsine mengusulkan prosesempat langkah berikut ini:
1) Mendidik
public
2) Memperbaiki
proses pemilihan dan pengawasan para penyusun standar
3) Menetapkan
pengaturan pendanaan baru
4) Menciptakan
independensi bagi para penyusun standar
2.6.2 Perataan
laba
Definisi awal
mengatakan bahwa perataan laba adalah pengurangan fluktuasi laba dari tahun ke
tahun dengan memindahkan pendapatan dari tahun-tahun yang tinggi pendapatannya
ke periode-periode yang kurang menguntungkan.
Definisi yang
lebih akhir mengenai pemerataan laba melihatnya sebagai fenomena “proses
manipulasi profil waktu dari pendapatan atau laporan pendapatan untuk membuat
laporan laba menjadi kurang bervariasi, sambil sekaligus tidak meningkatkan
pendapatan yang dilaporkan selama periode tersebut.
2.6.3 Manejemen
Laba
Manajemen laba
yaitu suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan-pilihan yang tersedia dan
mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan.
Schipper juga melihat manajemen laba baik dari sudut pandang laba ekonomi
(nyata) ataupun dari sudut pandang informasional.
1) Sudut
pandang laba mengasumsikan adanya:
a) Eksistensi
dari suatu laba ekonomi nyata yang didistribusikan dengan menggunakan menejemen laba yang disengaja dan
menggunakan kesalahan-kesalahan pengukuran yang terdapat dalam aturan-aturan
akuntansi.
b) Pendapatan
yang kacau dan belum dikelola, yang diperoleh dari property-properti baru
manajemen laba baik dilihat dari segi jumlah, bias atau variasinya.
2) Sudut
pandang informasional mengasumsikan adanya:
a) Pendapatan
adalah salah satu sinyal yang digunakan untuk pertimbangan dan pengambilan
keputusan
b) Para
manajer memiliki informasi pribadai yang dapat mereka gunakan ketika mereka
memilih unsure-unsur dalam GAAP terhadap berbagai kumpulan kontrak yang akan
menentukan pembicaraan dan perilaku mereka.
2.6.4
Kreativitas Dalam Akuntansi
Akuntansi kreatif
(creative accounting) adalah istilah yang biasanya digunakan oleh pers popular
untuk mengacu kepda apa yang dianggap oleh jurnalis dilakukan oleh akuntan
untuk menjadikan laporan keuangan tampak lebih bagus dari yang seharusnya.
Akuntansi
kreatif juga direferensikan sebagai penggunaan tipu muslihat akuntansi untuk
mendorong pendapatan yang mengalami
kelesuan atau meratakan pendapatan yang tidak beraturan. Hal ini dapat diraih
dengan pelaksanaan tujuh penggelapan utama yang diuraikan berikut ini:
a. Mencatat
pendapatan sebelum dihasilkan
b. Menciptakan
pendapatan fiktif
c. Mendorong
laba melalui transaksi-transaksi yang tidak rutin
d. Menggeser
pengeluaran saat ini ke periode berikutnya
e. Tidak
mencatat atau mengungkapkan kewajiban
f. Menggeser
laba berjalan ke periode dimasa depan
g. Menggeser
pengeluaran di masa depan ke periode yang lebih awal
2.6.5 Kecurangan Dalam Akuntansi
Kecurangan
merupakan pengelabuan yang disengaja yang dilakukan oleh orang lain melalui
kebohongan dan penipuan untuk tujuan memperoleh keuntungan ekonomi, pribadi,
social tau politik yang tidak adil atas orang tersebut.
a. Kecurangan
korporat
Kecurangan
korporat atau kejahatan ekonomi yang umumnya dilakukan oleh pejabat, eksekutif,
dan manajer pusat laba dari perusahaan public untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
jangka pendek mereka.
b. Kecurangan
dalam pelaporan keuangan
Komisi
Nasional mengenai Kecuran dalam Pelaporan Keuangan mendefinisikan kecurangan
dalam pelaporan keuangan sebagai perlakuan yang disengaja atau sembrono, baik
tindakan atau penghilangan, yanag menghasilkan laporan keuangan yang secara
material menyesatkan. Jenis-jenis yang umum dari kecurangan dalam pelaporan
keuangan meliputi:
1. Manipulasi,
pemalsuan atau pengubahan catatan-catatan atau dokumen-dokumen
2. Penekanan
atau penghilangan dampak dari transaksi-transaksi yang sudah selesai dari
catatan-catatan dokumen
3. Pencatatan
transaksi tanpa ada substansinya
4. Kesalahan
penerapan dalam kebijakan-kebijakan akuntansi
5. Kegagalan
untuk mengungkapkan informasi yang signifikan
Salah
satu pengungkapan keuangan yang disyaratkan oleh program penegakan kecurangan
terdapat pada empat area:
1. Masalah
likuiditas
2. Tren
dan faktor operasional yang mempengaruhi laba dan rugi
3. Peningkatan
yang material dalam pinjaman-pinjaman bermasalah harus dilaporkan oleh institusi-institusi
keuangan
4. Perusahaan
tidak dapat menghindari kewajiban pengungkapannya ketika menghadapi penurunan
atau kegagalan bisnis
Perusahaan
perlu menerapkan langkah-langkah untuk memperkecil eksposur yang disebabkan
oleh kecurangan atau pelaporan keuangan yang dipertanyakan . contoh-contoh
saran untuk memperkecil eksposur tersebut meliputi:
1. Formulasi
sikap perilaku yang diinginkan
2. Pemeliharaan
system pengendalian internal yang efektif
3. Pemeliharaan
organisasi keuangan yang efektif dengan tanggung jawab yang diakui dalam
memelihara praktik-praktik pelaporan keuangan yang baik
4. Pemeliharaan
fungsi audit internal
5. Dewan
direksi memainkan peranan yang aktif dalam peninjauan kebijakan dan praktik
pelaporan keuangan.
c. Kejahatan
kerah putih
Istilah
kejahatan kerah putih pertama kali diperkenalkan pada pidato presidensial Edwin
Sutherland kepda Masyarakat Sosiologis Amerika pada bulan desember 1939. Ia
mendefinisikannya sebgai suatu kejahtan yang dilakukan oleh seseorang yang
terhormat dengan status social kelas atas dalam pelaksanaan pekerjaanya.
Kejhatan kerah putih dapat dikenlai dari kelima komponen utamanya:
1. Maksud
untuk melakukan kejahatan
2. Menyamarkan
tujuan
3. Menggantungkan
diri pada kenaifan korban
4. Tindakan
korban secara suka rela untuk membantu pelaku kejahatan
5. Penyembunyian
pelanggaran tersebut
d. Kegagalan
audit
Auditor
diharapkan dapat mendeteksi dan memperbaiki atau mengungkapkan penghilangan
atau kesalahan saji informasi keuangan yang material. Ketika auditor gagal
untuk memenuhi ekspektasi ini, maka kegagalan audit adalah hasil yang tidak
dapat dielakkan. Maka kemudian tingkat kualitas auditlah yang dapat
menghindarkan terjadinya kegagalan audit. Kualitas audit adalah sebagai
probabilitas bahwa laporan keuangan tidak memuat penghilangan atau kesalahan penyajian
yang material. Kualitas audit juga didefinisikan dari segi resiko audit, dengan
jasa bermutu tinggi akan mencerminkan resiko audit yang lebih kecil. Risiko
audit didefinisikan sebagai risiko bahwa auditor kemungkinan dengan tanpa
sepengetahuannya gagal untuk dengan tepat memodifikasi pendapatnya atas laporan
keuangan yang memuat kesalahan penyajian yang material.
sumber : http://prezi.com/rwjkyuklcb73/copy-of-teori-akuntansi/ , sumber kedua: http://suwardjono.staff.ugm.ac.id/kuliah/193-makalah-teori-akuntansi-dalam-konteks-ifrs.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar