Jumat, 28 November 2014

pendekatan-pendekatan peristiwa dan perilaku (bab 11)

A. PENDEKATAN PERISTIWA
1. Hakikat dari pendekatan peristiwa
Pendekatan peristiwa untuk pertama kalinya dinyatakan secara eksplisit setelah adanya suatu perbedaan pendapat yang terjadi diantara anggota dari Committee of american Accounting Assotiation yang mengeluarkan sebuah statement of basic accounting teory. Mayoritas komite mendukung pendekatan nilai untuk akuntansi sedangkan hanya satu anggota yaitu George Sorter yang mendukung pendekatan peristiwa.
Kelompok Nilai
Kelompok nilai yang juga disebut sebagai kelompok kebutuhan dari para pengguna telah cukup diketahui untuk memungkinkan dilakukannya pengambilan suatu teori akuntansi yang memberikan input optimal bagi model-model keputusan tertentu. Model akuntansi konvensional yang didasarkan atas pendekatan nilai memiliki kelemahan-kelemahan, antara lain :
Dimensinya terbatas
Rencana-rencana klasifikasinya tidaklah selalu tepat
Tingkat agregasiinformasinya terlalu tinggi
Terlalu terbatasinya tingkat integrasi dengan area-area fungsional yang lain dari sebuah perusahaan
Pendekatan Peristiwa
Pendekatan peristiwa mengusulkan bahwa tujuan dari akuntansi adalah ”untuk memberikan informasi mengenai peristiwa-peristiwa ekonomi yang relevan yang dapat berguna dalam berbagai jenis model keputusan. Peristiwa mengacu pada semua tindakan yang dapat digambarkan oleh satu atau lebih dimensi-dimensi atau atribut dasar. Menurut Johnson, peristiwa berarti pengamatan yang mungkin dari karakteristik-karakteristik tertentu dari sebuah tindakan dimana seorang reporter dapat mengatakan saya meramalkannya dan melihatnya terjadi dengan ata kepala saya sendiri.
Jadi, karakteristik dari suatu peristiwa dapat diamati secara langsung dan memiliki arti ekonomi yang signifikan bagi pengguna. Karakteristik dari peristiwa yang tidak menggunakan nilai moneter mungkin harus di ungkapkan. Pendekatan peristiwa juga mengasumsikan bahwa tingkat pengumpulan dan evaluasi dari data akuntansi akan ditentukan oleh pengguna, mengingat fungsi kerugian dari para pengguna.
2. Laporan Keuangan dan Pendekatan Peristiwa
Dalam pendekatan nilai, neraca dianggap sebagai suatu indikator dari posisi keuangan perusahaan pada satu titik tertentu di satu waktu. Dalam pendekatan peristiwa, neraca dianggap sebagai suatu komunikasi tidak langsung dari seluruh peristiwa-peristiwa akuntansi yang relevan bagi perusahaan sejak ia dibentuk.
Dalam pendekatan nilai, laporan laba rugi dianggap sebagai suatu indikator bagi kinerja keuangan dari sebuah perusahaan pada satu periode tertentu. Dalam pendekatan peristiwa, laporan laba rugi dianggap sebagai komunikasi langsung engenai peristiwa-peristiwa operasional yang terjadi selama periode tertentu.
Dalam pendekatan nilai, laporan arus kas dianggap sebagai suatu penyajian mengenai perubahan kas. Dalam pendekatan peristiwa, laporan arus kas dianggap sebagai suatu penyajian peristiwa-peristiwa keuangan dan investasi.
3. Teori Peristiwa Normatif dari Akuntansi
Tujuan dari teori peristiwa normatif dari akuntansi adalah untuk maksimalkan keakuratan peramalan laporan-laporan akuntansi dengan berfokus pada atribut-atribut yang paling relevan dari peristiwa-peristiwa yang sangat penting bagi pengguna. Teori ini meminta adanya:
Suatu taksonomi yang eksplisit dari peristiwa-peristiwa nyata yang harus dilaporkan oleh akuntan
Perencanaan klasifikasi yang lebih efektif dengan referensi khusus pada label-label yang memungkinkan untuk mengaitkan peristiwa tertentu dengan peristiwa lain yang berhubungan
Pembuatan struktur sistem informasi akuntansi berbasis peristiwa
4. Sistem Informasi Akuntansi Berbasis Peristiwa
Satu cara untuk memenuhi tujuan dari teori peristiwa normatif dari akuntansi adalah dengan mengintegrasikan pendekatan peristiwa dengan pendekatan basis data pada manajemen informasi yang mengansumsikan bahwa suatu perusahaan membuat sebuah database yang dikelola secara terpusat dan dibagi diantara rentang pengguna yang luas dengan kebutuhan yang sangat beragam. Sistem akuntansi seperti ini meliputi model-model:

Model Hierarkis,, didasarkan atas pemikiran mengenai suatu sistem informasi akuntansi – peristiwa  yang memungkinkan para pengguna untuk memberikan pertanyaan database.
Model jaringan,, didasarkan atas konsep akuntansi multidimensional yang disampaikan oleh Ijiri dan Charnes, Colantoni dan Cooper. Model ini menggunakan sebagai input database yang pada awalnya belum terstruktur dan kumpulan pertanyaan atau permintaan data untuk mengembangkan suatu struktur data hierarkis yang akan meminimalisasi jumlah catatan yang harus diakses untuk menjawab suatu rangkaian yang diminta.
Model relasional,, didasarkan pada teori matematis tentang relasi. Pada dasarnya suatu database suatu kumpulan relasi-relasi berbagai tingkatan yang memiliki perbedaan waktu.
Model hubungan entitas,, mengasumsikan bahwa suatu sistem akuntansi akan dapat dibuat modelnya secara paling alamiah dalam suatu lingkungan database yang berupa kumpulan entitas-entitas dunia nyata dan hubungan diantara entitas-entitas tersebut.
Model akuntansi REA adalah suatu penyajian hubungan entitas umum dari fenomena akuntansi dengan kompenen yang terdiri atas perangkat-perangkat yang mewakili sumber daya ekonomi, peristiwa ekonomi, dan agen-agen ekonomi.
5. Evalusi atas Pendekatan Peristiwa
Pendekatan peristiwa menawarkan kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kelebihannya terutama adalah dalam bentuk usaha-usaha untuk memberikan informasi mengenai peristiwa ekonomi yang relevan yang mungkin bermanfaat bagi macam-macam model keputusan. Sebagai hasilnya akan terdapat lebih banyak informasi yang tersedia bagi para pengguna yang dapat menggunakan fungsi kegunaan untuk menentukan sifat dan tingkat agregrasi dari informasi yang diperlukan  dalam membuat keputusan. Kegunaan dari pendekatan peristiwa dapat bergantung pada satu atau lebih argumen dibawah ini :
Kegunaan dari pendekatan peristiwa mungkin bergantung pada keadaan psikologis dari si pengambil keputusan.
Dapat terjadi kelebihan informasi dari usaha percobaan untuk mengukur karakteristik yang relevan dari seluruh peristiwa penting yang mempengaruhi perusahaan
Kriteria yang memadai untuk pemilihan peristiwa yang penting belum dikembangkan
Mengukur seluruh karakteristik dari suatu pendekatan peristiwa mungkin terbukti sulit untuk dilakukan , melihat kondisi seni akuntansi saat ini.
B. PENDEKATAN PERILAKU
1. Hakikat dari Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku pada formulasi teori akuntansi menekankan relevansi pengambilan keputusandari informasi yang dikomunikasikan (orientasi keputusan-komunikasi) dan perilaku individu dan kelompok yang ditimbulkan oleh komunikasi informasi (orientasi pengambil keputusan). Akuntansi diasumsikan berorientasi pada tindakan, tujuannya adalah untuk mempengaruhi tindakan secara langsung melalui muatan informasional dari pesan yang disampaikan dan secara tidak langsung melalui perilaku para akuntan.
Tujuan dari ilmu keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan dan meramalkan perilaku manusia, yaitu untuk menetapkan generalisasi dari perilaku manusia yang didukung oleh bukti empiris yang dikumpulkan dalam cara yang objektif oleh prosedur-prosedur yang sepenuhnya terbuka untuk ditinjau, ditiru, dan dapat diverifikasi oleh ilmuan-ilmuan lain yang berminat.
Tujuan mendasar dari akuntansi keperilakuan adalah untuk menjelaskan dan meramalkan perilaku manusia disemua konteks akuntansi yang mungkin terjadi.
2. Dampak Perilaku Dari Informasi kuntansi
Informasi akuntansi dilihat dari segi isi dan formatnya mungkin dapat memberikan dampak bagi masing-masing pengambilan keputusan. Maka dari itu, studi-studi penelitian diarea ini telah memeriksa model-model pelaporan dan praktik pengungkapan untuk menilai pilihan yang tersedia dilihat dari segi relevansi dan dampaknya pada perilaku.
Studi-studi ini dapat dibagi dalam lima kelompok umum, yaitu:
Kecukupan pengungkapan
Digunakan 3 pendekatan untuk menilai kecukupan pengungkapa yaitu:
1. menilai polayang berkaitan dengan dimasukkannya informasi tertentu.
2. menilai persepeksi dan sikap dari kelompok kepentingan yang berbeda
3. menilai sampai sejauh mana item-item informasi yang berbeda diungkap dalam laporan tahunan dan faktor tertentu dari perbedaan-perbedaan yang signifikan dalam kecukupan pengungkapan keuangan antar perusahaan.
Kegunaan dari data laporan keuangan
Digunakan dua pendekatan untuk menilai kegunaan dari data laporan keuangan, yaitu:
1. menilai arti penting secara relatif dari analisis investasi item-item informasi yang berbeda baik untuk pengguna maupun pembuat informasi keuangan
2. menilai relevansi dari laporan keuangan terhadap pengambilan keputusan dengan didasarkan pada komunikai laboratorium dari data laporan keuangan dari segi kemudahan untuk dibaca dan arti bagi pengguna secara umum
Sikap dari praktik-praktik pelaporan perusahaan
Digunakan dua pendekatan untuk menilai sikap dari praktik-praktik pelaporan perusahaan.
1. menilai preferensi untuk teknik-teknik akuntansi alternatif
2. menilai sikap dari permasalahan pelaporan umum
Pertimbangan materialitas
Digunakan dua pendekatan untuk menilai pertimbangan materialitas
1. menilai faktor-faktor utama yang menentukan pengumpulan, pengklasifikasian, dan perangkuman data akuntansi
2. berfokus pada item-item apa yang dianggap meterual oleh orang lain dan mencoba untuk menentukan tingkat perbedaan yang diminta dalam data akuntansi sebelum perbedaan tersebut dianggap ebagai material.
Berbagai dampak keputusan dari prosedur akuntansi alternatif
Terutama di dalam konteks penggunaan teknik-teknik persediaan yang berbeda, informasi tingkat harga, dan informasi non akuntansi.
3. Dampak Linguistik dari Data Dan Teknik Akuntansi
Ada empat dalil yang diperkenalkan yang diperoleh dari paradigma relativitas linguistik yang bertujuan untuk secara konseptual mengintegrasikan temuan-temuan penelitian mengenai dampak dari informasi akuntansi terhadap perilaku penggunanya:
Para pengguna yang membuat pembedaan leksikal tertentu dalam akuntansi akan mampu berbicara dan menyelesaikan masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh pengguna yang tidak membuat perbedaan tersebut
Para pengguna yang membuat perbedaan leksikal tertentu dalam akuntansi akan mampu melaksanakan tugas-tugas dengan lebih cepat
Para pengguna yang memiliki aturan akuntansi cenderung akan membedakan gaya dan penekanan manajerial daripada mereka yang tidak memilikinya
Teknik-teknik akuntansi dapat cenderung memfasilitasi atau menjadikan lebih sulit beragam perilaku-perilaku manajerial dari pihak pengguna.
Dalil-dalil diatas telah di uji dan diverifikasi secara empiris dalam dua studi yang menekankan pada dua arti dari pertimbangan-pertimbangan linguistik dalam penggunaan informasi akuntansi dan dalam pembuatan standar internasional.
4. Fiksasi Fungsional Dan Data
Digunakan dalam akuntansi, mengusulkan bahwa dalam kondisi tertentu seorang pengambil keputusan mungkin tidak dapat menyesuaikan proses pengambilan keputusan terhadap suatu perubahan dalam proses akuntansi yang memberikan data yang mempengaruhinya.
Fiksasi fungsional diawali sebagai satu konsep dalam psikologi yang berasal dari investigasi mengenai dampak dari pengalaman masa lalu pada perilaku manusia.
Terdapat bermacam-macam konsep untuk hasil-hasil dari fiskal fungsional dalam akuntansi,yaitu:
Hipotesis pengondisian
Teori prospek dan hipotesis penyusunan
Keterlibatan ego yang pertama versus yang terbaru
5. Sifat Induksi Informasi
Perilaku seorang individu dipengaruhi oleh informasi dalam dua cara, yaitu:
Melalui penggunaan informasi ketika bertindak sebagai seorang penerima
Melalui induksi informasi ketika bertindak sebagai seorang pengirim
Faktor waktu juga dapat mengatur induksi sebagai berikut:
Komunikasi dari informasi yang pada kenyataannya merupakan penggambaran dari perilaku pengirimnyaatau di anggap seperti itu oleh pengirimnya
Konsekuensi-konsekuensi yang mencerminkan kemungkinan efek-efek timbal balikpada pengirim informasi akan sangat kondusif bagi induksi informasi
Pengklasifikasian secara luas dampak-dampak timbal balik bagi pengirim informasi yang muncul dari:
1. evaluasi eksternal atas kinerja
2. regulasi dan pengendalian atas operasi
3. interaksi dengan keputusan-keputusan dari unit-unit keperilakuan yang lain
4. pengubahan-pengubahan yang terjadi pada seperangkat pilihan yang terbuka bagi pengirim informasi
C. PENDEKATAN PEMROSESAN INFORMASI MANUSIA
Pendekatan pemrosesan informasi manusia tumbuh dari adanya suatu keinginan untuk meningkatkan baik perangkat informasi yang disajikan kepada pengguna dari data keuangan maupun kemampuan dari pengguna untuk menggunakan informasi tersebut.
Terdapat tiga komponen utama dari model pemrosesan infoormasi, yaitu input, proses, dan output. Study dari perangkat input informasi berfokus pada variabel-variabel yang kemungkinan besar akan mempengaruhi bagaimana cara seseorang memroses informasi untuk pengambilan keputusan.
Variabel-variabel yang dilihat adalah:
1. karakteristik skala dari masing-masing isyarat (tingkat pengukuran, diskret atau kontinu, deterministik atau probabilistik)
2. sifat-sifat statistikal dari perangkat informasi (jumlah isyarat, karakteristik distribusional, hubungan antar isyarat, dimensionalitas yang mendasari
3. muatan informasional atau signifikansi prediktif (bias, dapat di andalkan atau bentuk dari hubungan dengan kriteria)
4. metode penyajian (format, ukuran, tingkat agregasi)
5. konteks (kondisi pandangan secara fisik, instruksi, karateristik tugas dan umpan balik)
studi-studi mengenai komponen proses berfokus pada variabel-variabel yang mempengrauhi pengambilan keputusan seperti:
1. karakteristik dari pertimbangan
2. karakteristik dati aturan-aturan keputusan
studi-studi mengenai komponen output berfokus pada variabel yang berhubungan dengan pertimbangan, peramalan atau keputusan yang kemungkinan besar akan mempengaruhi cara pengguna mempross informasi.
Variabel variabel tersebut meliputi:
1. mutu dari pertimbangan
2. wawasan dari (penggunaa isyarat subjektif, kualitas keputusan yang diterima, dan persepeksi dari karakteristik perangkat informasi)
perbedaan penekanan pada ketiga komponen dari model pemrosesan informasi mengarah pada penggunaan empat pendekatan yang berbeda, yaitu :
1. pendekatan model lensa
pendekatan model lensa memungkinkan adanya pengakuan secara eksplisit atau saling ketergantungan antara variabel-variabel lingkungan dan spesifik individu. Model lensa digunakan untuk menilai situasi-situasi pertimbangan manusia dimana seseorang membuat pertimbangan berdasarkan atas seperangkat isyarat yang eksplisit dari lingkungan. Odel ini menekankan kesamaan antara lingkungan dan respons dari subjek.
Berbagai jenis masalah keputusan akuntansi yang telah dilihat dengan menggunakan model lensa, antara lain:
studi-studi pencatatan kebijakan, yang melihat arti penting secara relatif dari isyarat-isyarat yang berbeda dalam proses pertimbangan dan konsensus diantara para pengambil keputusan
keakuratan dari pertimbangan yang dibuat dengan basis isyarat-isyaratakuntansi
dampak dari karakteristik pekerjaan terhadap pencapaian dan pembelajaran
2. Pertimbangan Probabilistik
Pertimbangan probabilistik yang dikenal sebagai pendekatan Bayesian, pertama berfokus pada suatu perbandingan antara pertimbangan-pertimbangan probabilitas intuitif dengan model normatif.
Penelitian mengenai ditinggalkannya perilaku pengambilan keputusan secara normatifberfokus pada heuritis dan bias-bias yang pada dasarnya adalah kepresentatifan dalam pengauditan, penyandaran dalam pengauditan, penyandara dalam pengendalian manajemen, dan penyandaran dalam analisis keuangan dan pada kemampuan dari pengambilan keputusan untuk melaksanakan perannya sebagai evaluator informasi.
3. Perilaku Prakeputusan
Perilaku prakeputusan umumnya diuji dengan menggunakan metode pelacakan proses. Metode ini telah mengalami evolusi dari teori tentang pemecahan masalah yang dikembangkan oleh Newell dan Simon, yang berpendapat bahwa manusia memiliki ingatan jangka pendek dengan kapasitas yang terbatas dan ingatan jangka panjang yang sepertinya tidak terbatas.
Pelacak-pelacak proses cenderung mengandalkan empat metoda dibawah ini :
Pergerakan mata
Perilaku pencarian informasi
Penyertaan isyarat informasi atau waktu respons
Protokol introspektif verbal
Melihat potensi kewajaran dari strategi pengodean protokol verbal yang diterapkan oleh para peneliti, payne mengusulkan penggunaan etode pengumpulan data tambahan lainnya sehingga hasil dari beberapa motode tersebut dapat saling diperbandingkan untuk menentukan konvergensi mereka. Joyce dan Libby menambahkan kelemahan-kelemahan berikut:
Sangat banyaknya jumlah kumpulan data dari studi-studi seperti itu yang membatasi jumlah subjek yang dapat dipelajari
Kurangnya teknik-teknik pengodean sasaran
4. Pendekatan Gaya Kognitif
Pendekatan gaya kognitif berfokus pada variabel-variabel yang kemungkinan besar akan memberikan sebuah dampak pada kualitas dari pertimbangan yang dibuat oleh para pengambil keputusan.
Gaya kognitif adalah adalah sebuah gagasan hipotetis yang digunakan untuk menjelaskan proses mediasi yang terjadi antara stimuli dan respons.
Ada lima pendekatan yang diketahui dari studi mengenai gaya kognitif dalam psikologi, antara lain:
Otoriterianisme
Dogmatisme
Kompleksitas kognitif
Kompleksitas integratif
Ketergantungan pada bidang
5. Relativisme Kognitif Dalam Akuntansi
Revolusi kognitif dalam psikologi sosial telah menciptakan adanya suatu perhatian yang kuat tentang struktur ilmu pengetahuan mengenai ingatan pada umumnya, dan bagaimana seseorang belajar pada khususnya.
6. Relativisme Kultural Dalam Akuntansi
Relativisme kultural mengendalikan bahwa kebudayaan membentuk fungsi kognitif dari individu-individu yang berhadapan dengan suatu fenomena akuntansi atau audit.
Terdapat bermacam-macam konsep mengenai kebudayaan dalam antropologi yang menunjukkan adanya tema yang berbeda-beda dalam penelitian akuntansi.
Mengikuti fungsionalisme Malinowski
Mengikuti fungsionalisme struktural radcliffe-Brown
Mengikuti ilmu etnik Goodenough
Mengikuti antropologi simbolis Geertz
Mengikuti strukturalisme Levi-Strauss
Diterapkan pada akuntansi, kebudayaan dapat dipandang sebagai medium akuntansi. Kebudayaan pada intinya menentukan proses pertimbangan/keputusan dalam akuntansi. Model mengendalikan kebudayaan melalui komponen-komponen, elemen-elemen dan dimensi-dimensi, menentukan struktur organisasional yang dipergunakan, perilaku mikro-organisasional, dan fungsi kognitif dari individu sedemikian rupa sehingga pada akhirnya memengaruhi proses pertimbangan/keputusan mereka ketika mereka berhadapan dengan suatu fenomena akuntansi dan/atau audit.

D. EVALUASI ATAS PENDEKATAN PERILAKU
Kebanyakan penelitian akuntansi keperilakuan yang telah dibahas di bagian-bagian sebelumnya telah mencoba untuk menetapkan generalisasi mengenai perilaku manusia sehubungan dengan informasi akuntansi. Sasaran implisit dari seluruh studi ini adalah untuk mengembangkan dan memverifikasi hipotesis-hipotesis perilaku yang relevan bagi hipotesis-hipotesis teori akuntansi mengenai kecukupan pengungkapan, kegunaan data laporan keuangan, sikap mengenai praktik-praktik pelaporan perusahaan, pertimbangan materialitas, dampak-dampak keputusan dari prosedur akuntansi alternatif, dan komponen-komponen dari suatu model pemrosesan informasi (input, proses, dan output).
Akan tetapi sasaran implisit ini belum tercapai karena kebanyakan penelitian eksperimentak dan survei dalam perilaku akuntansi menderita kekurangtegasan teoretis dan metodologis.

sebuah ilmu dengan beragam paradigma bab 10

Sebuah Ilmu Dengan Beragam Paradigma

A.  Konsep Paradigma
1.      Perubahan – perubahan revolusioner, teori-teori, dan paradigma ekuilibrium tersela
 Selama periode ekuilibrium, sistem akan menjaga dan melaksanakan pilihan dari struktur dalam mereka. Sistem akan membuat penyesuaian-penyesuaian yang melindungi struktur dalam dari gangguan internal dan eksternal, dan berbergerak secara perlahan mengikuti jalur yang telah ditentukan dalam struktur dalam.
2.      Teori umum Kuhn tentang Revolusi ilmiah
Struktur adalah suatu jaringan kerangka kerja, “pilihan –pilihan”  yang terindipenden dari suatu konfigurasi dasar yang menyusun unit-unit suatu sistem, dan aktivitas-aktivitas yang mempertahankan baik konfigurasi maupun pertukaran sumber daya yang dimiliki oleh sistem dengan lingkungannya. Struktur dalam pada sistem – sistem yang diciptakan manusia sebagian besar bersifat implisit.

B.  Macam – macam Paradigma
Usulan-usulan di bawah ini di buat oleh terbitan dari American Accounting Asociantion pada tahun 1997, yang berjudul Statement of Theory Appectance, paradigma-paradigma berikut ini di usulkan oleh terbitan tersebut:
1.    Paradigma antropologis
2.    Paradigma laba sebenarnya ( true-income )/ model keputusan.
3.    Paradigma keputusan( decision usefulness )/model keputusan.
4.    Paradigma kegunaan keputusan /pengambil keputusan( decision maker )/prilaku pasar agregat (agregate market bahavior)
5.    Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna induvidu.
6.    Paradigma informasi/ekonomi

A.  Paradigma Antropologis/Induktif
Bagi mereka yang menerapkan paradigma antropologis/induktif, subyek permasalahan yang mendasar adalah :
1.    Praktik-praktik akuntansi yang sudah ada.
2.    Sikap manajemen terhadap praktik-praktik tersebut.
Para pendukung dari pandangan ini menyatakan secara umum bahwa teknik-tekniknya dapat di peroleh berdasarkan ata penggunaan mereka yang telah teruji atau bahwa manajemen memainkan suatu peranan utama dalam menentukan teknik-teknik yang akan di implentasikan.
Konsekuensinya, tujuan penelitian tujuan akuntansi yang di kaitakn dengan paradigma antropologis/induktif adalah untuk memahami, menjelaskan dan meramalkan praktik-praktik akuntansi yang sudah ada.
Empat teori dapat di pertimbangkan sebagai bagian paradigma antropologis/induktif :
1.    Ekonomi informasi
2.    Model analitiss/keagenan
3.    Perataanlaba/hipotesis manajemen penghasilan
4.    Teori positif dari akuntansi
Mereka yang menerapkan paradigma antropologis/indiktif cenderung akan menerapkan salah satu dari tiga teknik di bawah ini :
1.    Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian perataan laba
2.    Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian manajemen penghasilan
3.    Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian teori positif

 B. Paradigma laba sebenarnya/deduktif
Bagi mereka yag menerapkan paradigma laba sebenarnya/deduktif, subyek permaasalahan yang mendasar adalah :
1.    Penyusunan suatu teori  akuntansi berdasarkan pada pemikiran yagn logis dan normatif dan ketegasan konseptual.
2.    Suatu konsep laba yang ideal pada metode lain sealain metode biaya historis.
ManNeal menyatakan suatu konsep laba ideal adalah seabagai berikut : Terdapat suatu definisi yang tepat  dari laba dalam artian akuntansi “laba” adalah  suatupeningkatan kaekayaan bersih
Alexandar yagn juga mengemukakan mengenai suatu konsep laba ideal :
Kita juga harus mengemukakan apakah laba ekonomi adalah suatu hal yang ideal, di man alaba akuntansi hanya memiliki perbedaan sampai sejauh tingkatan bahwa ideal adalah suatu hal yang secara pratik tidak  akan dapat terpenuhi, atau apakah laba ekonomi adalah suatu hal yang pantas bahkan tidak akan dapat di ukur dengan pasti.
Teori yang munculdar paradigma laba sebenarnaya/deduktif menyajikan alternatf-alternatifbag sistem akuntansi biaya historis. Secara umum ada lima teori yagn dapat di identifikasikan :
1.    Akuntansi tingkat harga yagn telah di sesuaikan (atau daya beli saat ini)
2.    Akuntansi biaya penggantian.
3.    Akuntansi nilai pembatasan.
4.    Akuntansi kontemporer(nilai bersih yang dapat di realisasikan)secara kontinu.
5.    Akuntansi nilai sekarang.
Masing-masing teori di atas menyajikan metode-metode alternatif darri penilaian aktiva dan penentuan laba yang di duga dapat mengatasi kelemahan-kelemahan dari sistem akuntansi biaya historis.
Bagi mereka yang menerima paradigma laba sebenarnya/deduktif umumya menerapkan pemikiran analitis untuk membenarkan penyusunan dari suatu teori akuntansi atau untuk mengungkapkan mengenai keunggulan-keunggulan dari model penilaian aktiva/penentuan laba tertentu selain dari akuntansi biaya historis.para pendukung dari paradigma ini umunya melaanjutkan dai tujuan dan postulat-postulat mengenai lingkungan hingga ke metode yang spesifik.

C. Paradigma kegunaan keputusan/model keputusan
Chambers tidak mengejar pandangan mengenai paradigma kegunaan/model keputusan (decision-model)ini. Ia lebih memilih untuk mendasarkan suatu teori akuntansi berdasarkan atas kegunaan dari” setara kas lancar” daripada para model-model keputusan dar kelompok-kelompok pengguna tertentu. Demikian pula, May menawarkan suatu daftar kegunaa dari akun-akun keuangan tanpa secara eksplisit menerapkan pendekatan model keputusan di dalam formulasi darri suatu teori akuntansi.[1] Menurut May, akun keungan di gunakan sebagai :
1.    Laporan mengenai kepengurusan.
2.    Suatu basis bagi kebijakan fisikal.
3.    Suatu kriteria mengenai legalitas dari deviden.
4.    Suatu pedoman untuk menyadarkan aktivitas dividen.
5.    Suatu basis bagi pemberian kredit.
6.    Informasi bagi calon-calon investor prospektif.
7.    Suatu pedoman mengenai nilai dari investasi yagn telah di hasilkan.
8.    Bantuan dari suvervisi pemerintah.
9.    Suatu basis untuk regulasi tingkat harga.
10.              Suatu basis untuk perpajakan.

Suatu sistem akuntansi hendaknya di rancang untuk memberikan informasi yang relavan terhadap model-model pengambilan keputusan yang rasional. Sistem akuntansi tidak dapat memberikan semua informasi yang di inginkan oleh semua pengambil keputusan dan oleh karenanya kita harus memutuskan untuk mengeluarkan beberapa jenis informasi dan memasukkan jenis-jenis informasi yang lainnya.
Membatasi model-model pengambilan keputusan ke model-model yanng rasional memungkinkan adanya pengecualian sekumpulan data berdasarkan atas tingkah laku dari pengambil keputusan. Ia memungkinkan kita untuk berrkonsentrasi padda hal-hal yang telh terbukti efektif dalam mencapai sasaran para pengambil keputusan.[2]
Bagi mereka yagn menerapkan model kegunaan keputusan/model keputusan. Subyek permasalahan yang mendasar adalah kegunaan dari informasi akuntansi bagi model keputusan.  Informasi yang relavan bagi suatu model keputusan atau kriteria akan di tentukan dan selanjutnya di implementasikan dengan memilih alternatif  akuntansi terrbaik. Kegunaan dari suatu model keputusan di samakan dengan relevansi terhadap suatu model keputusa.
Dua jenis teori dapat dimasukkan kedalam paradigma kegunaa keputusan/model keputusan. Jenis teori pertama berkaitan dengan perbedaan jenis-jenis model keputusan yang di kaitkan dengan pengambilan keputudan bisnis ( pemograman linier, penganggaran modal, sewa versus beli, buat versus beli dan seterusnya). Jenis teori yang kedua berhubungan dengan peristiwa-peristiwa ekonomi yang berbeda yang dapat mempengaruhi kelangsunga usaha(kebangkrutan, pengambil alihan, pengganbungan usaha, perringkat obligasi dan seterusnya).
Mereka yang menerima paradigma kegunaan model/model keputusan cenderrung untuk berganttung pada teknik-teknik empiris untuk menentukan kemampuan peramalan dari item-item informasi yang telah di pilih. Pendekatan umumnya adalah menggunakan analisis untuk diskriminan untuk mengklasifikasikan menjadi satu dari beberapa pengalompokan apriori, tergantung pada masing-masing karakteristik keungann individu.

D.Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan /prilaku pasar agregat.
Bagi mereka yang menerapkan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/prilaku pasar agregat, subyek permasalahn yang mendasar adalah respons pasar agregat terhaddap variabel-variabel akuntansi. Secara umum kegunaan keputusan dari variabel-variabel akuntansi dapat di peroleh dari prilaku pasar agregat atau yang di sajikan oleh Gonedes dan Dopuch bahwa hanya dampak-dampak dari prosedur atau spekulasi akuntansi alternatif yamg dapat dinilai dari prilaku pasarr agregat. Meonedes dan Dopuch pemilihan sistem informasi akuntansi akan di tentun oleh prilaku pasar agregat.
Hubungan antara prilaju pasarr agregatdanvariabeel akuntansi di dasarkan pada teori mengenai efesiensi pasarr modal. Menurut teori ini, pasar untuk surat berhargaakan di anggap tidak efisien di mana (1)harga pasar “sepenuhnya mencermink informasi” seluruh informasi yang terseedia untuk publik dan sebagai implikasinya(2) harga pasar adalah tidak biasa dan dapat dengan segera merespons informasi baru. Teori ini memiliki artian bahwa secara rata-rata, pengembalian yang abromal (kelebihan pengembalian darri ekuiblirium pengambilan yang di harapkan) yang di porroleh karena menerrapkan seperangkat informasi yang ada dan bersama-sama denagn skela perdagangan mana pun adalah nol. Perubahan perangkat informasi ini akan secara otomatis menghasilkan ekuiblirium baru. Bahkan teori  ini mengonfirmasikan parradigma prilaku pasar yang meliputi :
1.    Model pasar efisien.
2.    Hipotesis pasarr efisien.
3.    Model penetapan harga aktiva modal.
4.    Teori penetapan harga arbitrase.
5.    Teori ekuilibrium mengenai penetapan harga opsi.
Mereka yang menerima paradigma pasarr bergantung pada metode-metode berrikut ini:
1.    Model pasar.
2.    Model estimasi beta.
3.    Metodologi studi peristiwa.
4.    Model penilaian daro Ohslon
5.    Model evaluasi neraca tingkat harga.
6.    Model muatan informasi dari laba
7.    Model mengenai hubungan antara laba dan pengambilan.

E. Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu
Hasil karya dari William Bruns dapat di anggap seebagai contoh pertama dari paradigma peangambil keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu.[3] Bruns mengusulkan hipotesis yang menghubungkan penggunaan informasi akuntansi dan relevansi dari informasi akuntansi terhadap konsepsipengambil keputusan tentang akuntansi, dan informasi lain yang tersedia terhadap dampak informasiakuntansipada berbagai keputusan. Hipotesis-hipotesis ini juga di kembangkan dalam suatu model yang mengidentifikasi dan menghubungkan faktor-faktor yang mungkin menentukan kapan keputusan akan di studi mengenai bagaimana fungsi-fungsi dalam laporan akuntansi mempengaruhi perilaku dari para akuntan dan nonakuntan.
Bagi mereka yang menerapkan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu, subyek permasalahan yang mendasar adalah respons dari pengguna individu terrhadap variabel-variabel akuntansi. Para penyokong paradigma ini berpendapat bahwa, secara umum kegunaan keputusan darri variabel akuntansi dapat di dapatkan dari prilaku manusia. Dengan kata lain, akuntansi di pandang sebagai suatu proses prilaku. Tujuan penelitian akuntansi keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan, meramalkan prilaku manusia dalam konteks akuntansi. Paradigma ini menjaddi perhatian dari para pengguna internal akuntansi, prosedur dan menyokong informasi, serta masyarakat umum dan perwakilannya.
Kebanyakan penelitian yang berrkaitan dengan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu telah di laksanakan keuntungan dari formasi yang eksplisit dari suattu teori. Umumnya, sebagai alternatif dari mengmbangkan teori-teori akuntansi keprilakuan yang tepat adalah meminjam darri disiplin ilmu yang lain. Sebahagian besar teor-teori yang di pinjam menjelaskan dan meramalkan prilaku manusia dalam konteks akuntansi dengan cukup memandai. Teori-teori yang di pinjam ini meliputi :
1.    Relavisme kognitif dalam akuntansi
2.    Relavisme kultural dalam akuntansi
3.    Dampak kprilakuan  dari informasi akuntansi
4.    Relavisme linguistik dalam akuntansi
5.    Hipotesis fungsional dan fiksasi data
6.    Hipotesis induksi informasi
7.    Hipotesis organisasional dan kelonggaran penganggaran
8.    Pendekatan kontinjensi terhadap perancangan sistem akuntansi
9.    Penganggaran partisipatif dan kinerja
10.              Model-model pemrosesan informasi manusia yang mencakup :

a)    Model lensa
b)   Model pertimbangan probabilistik
c)    Model prilaku prakeputusan
d)   Pendekatan gaya kognitif
Mereka yang menerima paradigma ini cenderung untuk menggunakan seluruh metode yang di dukung oleh teknik-teknik observasi, wawancara, dan kuesioner, sert percobaan adalah metode yang di sukai. Hal ini merupakam titik awal yang baik untuk validasi lebih lanjut.
F. Paradigma informasi/ekonomi
Contoh dari paradigma informasi/ekonomi yagn di ucapkan oleh Crandall, Feltham, serta Feltham dan Demski. Dalam makalah pendahulunya, Feltham mengusulkan suatu kerangka kerja untuk menentukan nilai dari suatu perubahan dalam keputusan informasi (pengambil keputusan). Kerangka kerja ini bergantung pada masing-masing komponen yang di butuhkan untuk menghitung pengembalian(atau manfaat) yang di harapkan oleh suatu sistem informasi tertentu. Komponen-komponen terrsebut adalah:
1.    Seperangkat tindakan-tindakan yang mungkin di alakukan pada tiap-tiap priode dalam suatu rentang waktu.
2.    Fungsi pengembalian atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada priode berlangsung.
3.    Hubungan probabilistik antara peristiwa-perristiwa masa lalu dan masa datang.
4.    Periwtiwa dan sinyal-sinyal dalam sistem informasi, terrmasuk sinyal-sinyal dari masa lalu dan masa datang.
5.    Seperangkat aturan-aturan kepututsan sebagai fungsi dari sinyal-sinyal.

Crandall menilai kegunaan dari paradigma informasi/ekonomi terhadap perkembangan masa datang dari teori akuntansi dan menawarkan pandekatan “ekonomi informasi terapan” sebagai suatu terapan mainstrem teori akuntansi yang baru. Sederhananya, pendekatan ini terdiri atas pengakuan secara eksplisit setiap komponendari model informasi/ekonomi dan memperluas ruang lingkup dari rancangan akuntansi untuk mencangkup selirih komponene-komponen ini.
Bagi mereka yang yang mengadaptasi paradigma informasi/ekonomi, subyek permasalahan yang mendasar adalah :
a.    Informasi adalah suaut komoditas ekonomi
b.    Perrolehan informasi adalah serupa dengan masalah mengenai pilihan ekonomi.
Nilai dari informasi di lihat dari segi kriteria biaya manfaat dalam struktur formal dari teori keputusan dsn teori ekonmi. Hal ini di jelaskan sebagai berikut :
Masalah yang di perdebatkan sehubungan dengan akuntansi akrual bergantung pada dasar-dasar pemikiran bahwa (1) laba yang di laporkan menurut akuntansu akrual melebihkan lebih banyak informasi dari pada  yang akan di berikan oleh sistem akuntansi berorientasi arus kas yang kurang begitu ambisius,(2) akuntansi akrual adalah cara yang paling efisien untuk menyampaikan tambahan informasi ini, dan juga sebagai akibat yang wajar, (3) nilaidari tambahan sistem informasi seperti itu melebihi biayanya.[4]


[1] May,G.O.,financial Accounting(New York”Macmillan, 1943),h. 19.
[2] Ibid.,h. 199.
[3] Bruns, William j., Jr., “Accounting Information and Decision making: Some Behavioral Hypotheses,” The
AccountingReview (juli 1968), h. 469-80.
[4] Beaver, Wiliiam, dan Demski, Joel S.,”The Nature of Income Measurment,”The  Accounting Review (januari 1979),h. 43