KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK AKUNTANSI DAN PELAPORAN
KEUANGAN
2.1. Kewajaran dalam Akuntansi
2.1.1. Kewajaran sebagai netralitas
dalam penyajian
Kewajaran paling tepat dijabarkan
dalam literatur dan persyaratan-persyaratan akuntansi profesional sebagai
pernyataan netralitas dari akuntan dalam pembuatan laporan keuangan. Scott pada
tahun 1941, menyatakan: “Aturan, prosedur, dan teknik akuntansi hendaknya
wajar, tidak bias dan tidak memihak. Jadi salah satu dalil akuntansi dasar yang
mendasari prinsip-prinsip akuntansi dapat dinyatakan sebagai
kewajaran-kewajaran bagi seluruh segmen dari masyarakat bisnis (manajemen,
tenaga kerja, pemegang saham, kreditor, konsumen, dan publik), ditentukan dan
kebiasaan dari semua segmen tersebut sampai pada akhirnya semua prinsip-prinsip
akuntansi yang didasarkan atas dalil di atas akan menghsilkan akuntansi
keuangan bagi hak-hak dan kepentingan-kepentingan ekonomi yang telah
diterbitkan secara resmi menjadi wajar untuk semua segmen.
Menurut sejarahnya, kewajaran atau
doktrin kewajaran mengalami evolusi dari penerapan kosep konservatisme. Konsep
tersebut berangkat dari perhatian yang berhubungan dengan masalah likuiditas
dan pemberian kredit, yang umumnya dikaitkan dengan konservatisme, menuju
kearah pemikiran bahwa penyajian laporan keuangan seharusnya wajar bagi semua
pengguna.
Kewajaran umumnya dihubungkan dengan
pengukuran dan pelaporan informasi melalui cara yang objektif dan netral.
Informasi adalah wajar jika informasi tersebut objektif dan netral. Kewajaran akan
lebih dapat tercapai dalam akuntansi manajerial atau akuntansi biaya dimana
adanya tanda-tanda keberpihakan atau bias dapat mendistorsikan proses
pengambilan keputusan yang sangat bergantung pada data akuntansi manajerial.
kewajaran menjadi kriteria informasi yang dibutuhkan dalam akuntansi manajerial
untuk memastikan integrasi dan akurasi dari pengambilan keputusan.
2.1.2. Doktrin “Benar Dan Wajar”
Menurut pemahaman umum, pandangan
ini berati penyajian akun-akun, yang berdasarkan prinsi-prinsip akuntansi yang
berlaku umum dengan menggunakan angka-angka yang akurat. Benar memiliki artian
bahwa informasi akuntasi yang dimuat dalam laporan keuangan telah dikuantifisir
dan dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan peristiwa, aktivitas
dan transaksi ekonomi yang dimaksudkan untuk disajikan olehnya. Wajar berarti
bahwa informasi akuntansi tersebut telah di ukur dan diungkapkan dengan cara
yang objektif dan tanpa prasangka apa pun terhadap kepentingan dari berbagai
bagian dalam perusahaan.
Kedua difinisi diatas pada dasarnya
menghubungkan ”benar dan wajar” dengan akurat dan bebas dari bias. Akan tetapi
usaha yang patut dihargai ini mengurangi artian dari definisi profrsional dan
legal mengenai “benar dan wajar” sebagai salah satu istilah teknis yang
memiliki arti kepatuhan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang benar. Tidak
terdapat definisi yang jelas mengenai doktrin “benar dan wajar” ini, yang
selanjutnya mengarah kepada munculnya interprestasi yang berbeda di antara para
anggota.
2.2. Kewajaran Dalam Distribusi
Pada dasarnya, kewajaran dapat
dipandang sebagai konsep moral dari keadilan yang menjadi subjek dari tiga
interpretasi yang berada mengenai pemikiran keadilan distributif. Oleh sebab
itu, hasil akhirnya adalah adanya kemungkinan untuk melihat dan membandingkan
konsep kewajaran melalui kerangka keadilan disributif.
2.2.1. Perhatian atas pertanyaan-pertanyaan mengenai distribusi
Masalah pendistribusian hampir
selalu diabaikan dalam pandangan konvensional atas kewajaran sebagai
netralitas, dalam penyajian. Jika pertimbangan mengenai kewajaran diperkenankan
untuk menjadi lebih eksplisit, bebrapa implikasi tertentu akan muncul pada
studi dan praktk akuntansi. Salah satu yang paling nyata adalah akuntansi
memiliki demensi moral. Konsekuensi dari aktivitas akuntansi memiliki implikasi
moral sekaligus implikasi “efesiensi”. Bagi suatu profesi, menjadi lebih ilmiah
bukan berarti harus meninggalkan pengambialan keputusan moral dan mengembangkan
cara-cara untuk melakukannya. Kewajaran dalam akuntansi dan kewajaran dalam
distribusi tumbuh dari kerangka etika yang berbeda, meskipun bersifat
komplementer, asumsi-asumsi mengenai masyarakat.
Kewajaran dalam literatur akuntansi
sosial menjadi masalah pendistribusian tanggung jawab sosial secara umum, dan
ketanggapan sosial sebagai kemampuan dari perusahaan untuk memberikan respons
atas tekanan-tekanan sosial. Jadi responsif sosial perusahaan, menjadi salah
satu tanda kewajaran, berada di luar konotasi moral dan etika dari tanggung
jawab sosial serta proses material. Respon untuk kewajaran meliputi
identifikasi, pengukuran dan pengungkapan, apabila memungkinkan, dari biaya
sosial yang diciptakan oleh aktivitas-aktivitas ekonomi perusahaan, sekaligus
pula respon yang memadai untuk masalah-masalah ini.
2.2.2. Kewajaran
sebagai Konsep Moral dari Keadilan
A.
Kontribusi dari Rawls
1. Teori Keadilan Rawls
Sasaran dari teori keadilan Rawls
adalah mengembangkan suatu teori mengenai keadilan dalam bentuk prinsip-prinsip
untuk diterapkan dalam pengembangan struktur dasar dari masyarakat dan yang
menyajikan tantangan langsung kepada utilitarianisme. Sebagai suatu teori
egaliter, anggapan utamanya adalah pendistribusian semua barang-barang dan jasa
ekonomi secara merata kecuali dimana distribusi yang tidak merata akan mendatangkan
manfaat kepada semua orang, atau paling sedikit akan menguntungkan golongan
yang paling tidak beruntung dari masyarakat.
2. Kewajaran dalam Akuntansi Menurut Rawls
Teori kontrak Rawls-suatu teori
mengenai institusi sosial yang adil- dapat ditawarkan sebagai konsep kewajaran
dalam akuntansi. Teori ini menawarkan potensi untuk memercayakan pada tabir
ketidaktahuan di semua situasi yang meminta adanya pilihan dalam akuntansi pada
akhirnya akan memberikan hasil solusi
yang netral, wajar, dan adil secara sosial.
B.
Kontribusi dari Nozick
1. Teori Keadilan Nozick
Nozick
berpendapat bahwa teori yang didasarkan atas prinsip-prinsip berpola dan
negara, melanggar hak-hak orang lain dan mengeluarkan pengakuan mengenai
prinsip jatah dari keadilan distributif, dimana individu-individu diberi hak
atas benda-benda pribadi milik mereka selama mereka diperoleh dengan cara-cara
yang resmi , tremasuk transfer-transfer sukarela, pertukaran dan kerja sama
dalam aktivitas produksi. Teori Nozick menempatkan fokusnya pada pentingnya
prinsip-prinsip historis, dalam artian bahwa distribusi tidak hanya atau tidak
bergantung kepada bagaimana hasil akhirnya saja.
2. Kewajaran dalam Akuntansi Menurut
Nozick
Pada
dasarnya menurut Nozick teori tersebut merupakan teori distribusi libertarian,
yang didasarkan atas prinsip-prinsip keadilan dalam akuisisi dan transfer.
Konsep keadilan distributif ini, dengan ketergantungannya kepada mekanisme
pasar bebas, tidak memungkinkan untuk secara memadai berhadapan dengan
kewajaran sebagai fungsi distributif, karena ia diasumsikan akan mengalami
kegagalan dalam pembahasan mengenai kewajiban sosial dari manusia satu sama
lain, untuk mengabadikan pelanggaran masa lalu
atas prinsip-prinsip akuisisi dan transisi, dan untuk mendistorsikan
arti dari pembiaran di tengah dunia kelangkaan.
C.
Kontribusi dari Gerwith
1. Teori Keadilan Gerwith
Sasaran dari
teori keadilan Gerwith adalah memberikan justifikasi rasional bagi
prinsip-prinsip moral untuk secara objektif membedakan tindakan-tindakan yang
tepat secara Moral.
2. Kewajaran dalam Akuntansi Menurut
Gerwith
Teori
keadilan Gerwith dapat ditawarkan sebagai konsep kewajaran dalam akuntansi. Ia
mengusulkan keunggulan dari perhatian atas hak-hak kebebasan dan kesejahteraan
dari semua orang yang dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas perusahaan dan atas
penciptaan peraturan-peraturan institusional dan akuntansi untuk menjamin
hak-hak tersebut.
2.3.
Kewajaran dalam Pengungkapan
2.3.1 Tuntutan
untuk Memperluas Pengungkapan
Terdapat
beberapa usulan untuk mengurangi atau untuk menghapus ketidakadilan dalam
pelaporan dan pengungkapan diantaranya :
a.
Usulan Pengungkapan Bedford
Bedford
mengusulkan perluasan pengungkapan akuntansi untuk meringankan masalah yang
ditimbulkan oleh doktrin kejujuran dalam akuntansi. Selain hanya tergantung
pada prinsip akuntansi berterima umum sebagai satu – satunya metode pengukuran,
bedford mengusulkan untuk mengembangkan alat baru yang dapat digunakan untuk
membuat infomasi yang bermanfaat bagi manajemen dan pembuat keputusan.
b.
Teori Lev mengenai Kebijakan Akuntansi yang Wajar dan Efisien
Lev
mengusulkan teori mengenai kebijakan akuntansi yang wajara dan efisiens. Lev
berpendapat bahwa kemajuan dalam mengungkapkan masalah kebijakan akuntansi yang
asasi dapat dicapai dengan melihat perhatian pembuat kebijakan secara
eksplisit, yaitu keadilan pasar modal. Keadilan ini didefinisikan sebagai
kesempatan yang sama atau terjadi informasi yang simetris bagi semua investor
ketika informasi tersebut dikeluarkan dan semua investor identik dengan return ekspektasian yang disesuaikan
dengan resiko.
c.
Keunggulan Penggunaan Gaa
Gaa menggali
formulasi logis mengenai prinsip keunggulan pengguna berdasarkan pada usaha
terkini pada filosofi etika, dan sosial dan politik. Bidang ini merupakan
bidang yang melibatkan manusia sebagai pembuat keputusan dan bidang yang
prinsipnya mengatur perilaku individu dan kelompok sebagai hasil keputusan yang
rasional.
d.
Temuan – temuan Komite Jenkins
Komite Jenkins bertugas menentukan :
-
Sifat dan cakupan informasi yang seharusnya dilaporkan oleh pihak manajemen.
-
Cakupan informasi yang seharusnya dilaporkan oleh auditor.
e.
Pengungkapan Akuntansi yang Diperluas
Tujuan pengungkapan adalah :
-
Untuk menjelaskan item – item yang diakui dan untuk menyediakan ukuran yang
relevan bagi item – item tersebut, selain ukuran dalapm laporan keuangan.
-
Untuk menjelaskan item – item yang belum diakui untuk menyediakan ukuran yang
bermanfaat bagi item – item tersebut.
-
Ăšntuk menyediakan informasi untuk membantu investor dan kreditur dalam
menentukan risiko dan item – item yang potensial untuk diakui dan yang belum
diakui.
-
Untuk menyediakan informasi penting yang dapat dipergunakan oleh pengguna
laporan keuangan untuk membandingkan antar perusahaan dan antar tahun.
-
Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar di masa
mendatang.
-
Untuk membantu investor dalam menentukan return
dan investasinya.
2.3.2 Pelaporan Nilai Tambah
Nilai tambah
merupakan peningkatan kesejahteraan yang dihasilkan oleh pengguna sumber daya
perusahaan yang produktif sebelum dialokasikan kepada pemegang saham, pemegang
obligasi, pegawai, dan pemerintah. Nilai tambah ini mudah dihitung dengan
memodifikasi laporan laba rugi.
Langkah 1 : Laporan
laba rugi menghitung laba ditahan sebagai selisish antara revenue penjualan dengan kos, pajak, dan dividen:
R = S – B – DP – W – I – DD – T
Ket : R : Laba ditahan
S :
revenue penjualan
B :
material dan jasa yang dibeli
DP :
depresiasi
W :
gaji
I :
bunga
DD :
dividen
T :
pajak
Langkah 2: Persamaan nilai tambah
dapat diperoleh dengan mengubah persamaan profit :
S – B = R + DP + W + I + DD – T (metode nilai tambah bruto)
Atau
S – B – DP = R + W + I + DD – T (metode nilai tambah neto)
2.3.3
Pelaporan tentang Karyawan
Dengan
adanya karyawan dan serikat pekerja sebagai pengguna informasi akuntansi yang
potensial, dan untuk berbagai alasan yang baik, tampak bahwa laporan tahunan
bagi pemegang saham bukan merupakan dokumen yang dapat mencakup kepentingan
semua pihak. Solusinya yaitu terletak pada pembuatan laporan khusus bagi
karyawan dan serikat pekerja.
2.3.4
Pelaporan dan Akuntansi Sosial
Terdapat
empat aktivitas yang berhubungan dengan akuntansi sosial yaitu ; akuntansi
pertanggungjawaban sosial (social responsibility accounting, SRA), Akuntansi
sosioekonomi (socioeconomis accounting, SEA), akuntnasi dampak total ( total
impact accounting, TIA), dan akuntansi indikator sosial (social indicator
accounting, SIA).
Alasan dilakukannya pengungkapan
kinerja sosial diantaranya:
-
Terkait dengan kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
-
Membantu dalam mengaplikasikan konsep kejujuran yang akan bermanfaat bagi
akuntansi sosial.
-
Kebutuhan pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan alokasi dana.
-
Investasi sosial.
2.3.5 Pengungkapan Informasi Penganggaran
Dalam
pengungkapan informasi penganggaran perlu memperhatikan reliabilitas terkait
dengan keakuratan relatif peramalan, pertanggungjawaban terkait dengan besarnya
kewajiban perusahaan dalam penganggaran dan kemungkinan akuntan mengaudit
anggaran tersebut, dan sikap diam terkait dengan tingkat diamnya dan ketidakbergeraknya
perusahaan akibat kerugian yang mungkin timbul dari pengungkapan penganggaran.
2.3.6
Pelaporan dan Akuntansi Aliran Kas
Akuntansi
aliran kas dipandang oleh pendukungnya sebagai yang terbaik dibandingkan
akuntansi akrual konvensional karena :
- Dapat
menyediakan kerangka analitis untuk menghubungkan kinerja masa lalu, sekarang
dan masa yang akan datang.
- Dapat merefleksikan
kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya di masa mendatang dan yang
direncanakan pada kebijakan keuangan.
- Rasio aliran
harga yang didiskon dapat menjadi indikator investasi yang lebih dapat
dipercaya dibandingkan rasio harga dengan earnings saat ini, karen dalam
menghitung earnings per lembar saham menggunakan berbagai metode alokasi yang
sembarang.
- Dapat
digunakan untuk mengoreksi perbedaan dalam praktik yaitu antara cara
melaksanakan investasi ( biasanya didasarkan pada aliran kas) dengan cara
mengevaluasi hasil ( biasanya didasarkan pada earnings).
2.4
Akuntansi Sumber Daya Manusia
2.4.1
Definisi dan Tujuan Sumber Daya Manusia
Belkaoui
(1995) mendefinisikan akuntansi sumber daya manusia yaitu proses
mengidentifikasi dan mengukur data mengenai sumber daya manusia dan
mengkomunikasikan informasi ini kepada pihak – pihak yang tertarik. Tujuan
utama akuntansi sumber daya manusia yaitu :
a.
Identifikasi “nilai sumber daya manusia”.
b.
Pengukuran cost dan nilai orang pada organisasi.
c.
Mengkaji pengaruh pemahaman informasi ini dan dampaknya pada perilaku manusia
2.4.2
Teori Nilai Sumber Daya Manusia
Konsep nilai
manusia berasal dari teori umum mengenai nilai ekonomis. Individu dan kelompok
dapat dilekati nilai, seperti aset fisik yang didasarkan pada kemampuan untuk
memberikan jasa ekonomi di masa mendatang. Nilai individu atau kelompok
didefinisikan sebagai manfaat jasa yang diberikan saat ini yang diberikan
kepada organisasi sepanjang masa pemberian jasa individu atau kelompok yang
diharapkan.
a.
Faktor – faktor yang menentukan nilai individual
Pada model Flamholtz, ukuran yang
digunakan untuk mengukur manfaat manusia adalah nilai expected realizable nya.
Nilai individu meruapakan interaksi antara dua variable :
o Nilai
kondisional yang diharapakan individual : produktivitas, kemampuan untuk
dipindah, dan kemampuan untuk dipromosikan.
o Probabilitas
bahwa individu akan mempertahankan keangggotaannya pada organisasi : terkait
dengan tingkat kepuasan seseorang terhadap pekerjaannya.
b.
Faktor – faktor yang menentukan nilai kelompok
Tiga variabel yang mempengaruhi
aktivitas perusahaan dalam “pengelolaan manusia”( Likert-Bowers ) :
o Variabel
kausal : variabel bebas yang diubah atau diganti secara sengaja atau secara
langsung oleh organisasi dan manajemennya dan yang menentukan arah perkembangan
dalam organisasi.
o Variabel
Intervening : merefleksi keadaan internal, kesehatan dan kemampuan kinerja
organisasi.
o Variabel
hasil akhir : variabel terikat yang merefleksikan hasil yang di capai oleh
suatu perusahaan.
2.4.3
Ukuran Aset Manusia
a.
Metode Cost Historis
Mengkapitalisasi
seluruh cost yang terkait dengan usaha untuk merekrut, memilih, mempekerjakan,
melatih, menempatkan dan mengembangkan seorang karyawan (aset manusia), dan
kemudian mengamortisasi cist ini sepanjang masa manfaat aset ini dan mengakui
kerugian jika melikuidasinya atau meningkatkan keuntungan potensial dari aset
tersebut.
b.
Metode Replacement Cost
Membuat
estimasi cost untuk mengganti sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan.
Keuntungan metode ini adalah metode ini merupakan pengganti pengukuran yang
baik bagi nilai ekonomis aset dengan batasan bahwa pertimbangan pasar penting
untuk membentuk tafsiran akhir.
c.
Metode Opportunity Cost
Nilai sumber
daya ditentukan melalui proses penawaran kompetitif pada perusahaan, didasarkan
pada konsep opportunity cost.
d.
Metode Kompensasi
Nilai modal
manusia yang dikandung oleh seorang manusia pada umur tahun adalah nilai
sekarang dari earnings yang akan diperolehnya dari pekerjaanya. Kelemahan
metode ini adalah subjetivitas yang terkait dengan penentuan tingkat gaji
mendatang, lama karyawan bekerja dalam organisasi, dan tingkat diskon.
e.
Metode Adjusted Discounted Future Wages
Metode ini
mengusulkan bahwa gaji mendatang yang didiskon disesuaikan dengan menggunakan
faktor efisiensi, yang digunakan untuk mengukur efektivitas relatif modal
manusia pada perusahaan tertentu.
f.
Ukuran Non Moneter
Ukuran non
moneter ini digunakan untuk mengukur aset manusia yang telah digunakan seperti
metode sederhana yaitu dilakukan pembuatan peringkat atau ranking mengenai
kinerja individual dan pengukuran sikap.
3.5 Krisis
Akuntansi Masa depan
Krisisi
akuntansi menurut Lev yaitu akuntan bukan a good eyesight. Lensa lama tidak
akan bisa melihat situasi ekonomi baru, apalagi jika ingin melaporkan hal – hal
yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud seperti: ide, merk, cara kerja,
goodwill, franchises. Pegawai tidak mengetahui secara akurat berapa sebenarnya
kontribusi mereka terhadap perusahaan. Saat ini perusahaan banyak melakukan
proyek penelitian untuk mengembangkan intangible asset dan akuntansi belum
memberikan respon yang baik. Karenanya perlu pemikiran kembali terhadap prinsip
akuntansi keuangan.
Pada tahun 1989 Belkoui menulis buku yang berjudul The
Coming Crisis in Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul
dari:
a. Profesi akuntan.
b. Kecurangan dalam lingkungan
akuntansi.
c. Menurunnya work loaad dalam profesi
akuntansi.
d. Iklim organisasi di kantor
akuntansi.
e. Problema produksi ilmu pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Peran kejujuran dalam akuntansi
sangatlah penting, hal ini mengarah pada pembuat informasi akuntansi yang harus
berdasarkan fakta yang terjadi di perusahaan tersebut dan menerapkan praktik –
praktik etika bisnis dalam mengambil keputusan akuntansi dalam penyajian,
pembuatan, dan pengauditan hasil – hasil akuntansi.
·
Kejujuran dianggap sebagai konsep keadilan moral, harus dibuat kesesuaian
antara teori utama yang membahas mengenai keadilan distributif.
a.
Kontribusi Rawls
b.
Kontribusi Nozick
c.
Kontribusi Gerwith
·
Terdapat
beberapa usulan untuk mengurangi atau untuk menghapus ketidakadilan dalam
pelaporan dan pengungkapan diantaranya
a.
Usulan Pengungkapan Bedford
b.
Teori Lev mengenai Kebijakan Akuntansi yang Wajar dan Efisien
c.
Keunggulan Penggunaan Gaa
d.
Temuan – temuan Komite Jenkins
e.
Pengungkapan Akuntansi yang Diperluas
·
Pelaporan
yang dibutuhkan dalam pengungkapan di antaranya:
a.
Pelaporan Nilai Tambah
b.
Pelaporan tentang karyawan
c.
Pelaporan dan akuntansi sosial
d.
Pengungkapan informasi penganggaran
e.
Pelaporan dan akuntansi aliran kas
·
Belkaoui (2011)
mendefinisikan akuntansi sumber daya manusia yaitu proses mengidentifikasi dan
mengukur data mengenai sumber daya manusia dan mengkomunikasikan informasi ini
kepada pihak – pihak yang tertarik
·
Teori Nilai
Sumber Daya Manusia
a.
Faktor – faktor yang menentukan nilai individual
b.
Faktor – faktor yang menentukan nilai kelompok
·
Ukuran Aset
Manusia
a.
Metode Cost Historis
b.
Metode Replacement Cost
c.
Metode Opportunity Cost
d.
Metode Kompensasi
e.
Metode Adjusted Discounted Future Wages
f.
Ukuran Non Moneter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar